Kamis, 28 November 2013

End Year Surprise

*menghela napas*
hehe, saya bingung juga mau mulai darimana ini nulisnya. 
end year surprise?
ya, karena saya merasa Allah memberi banyak kejutan untuk saya di akhir penghujung 2013 ini.  
tanggal 22 November kemarin saya diberi kesempatan untuk hadir di acara Sarasehan Nasional FSLDK 2013 yang diadakan di IPB, Bogor.

dan...belum ada satu minggu sekembalinya saya ke surabaya, belum juga menuliskan diary sarnas 2013, saya sudah harus melancong lagi ke UI, Depok, inshaAllah.. :)
untuk yang kali ini saya ditawarin ikutan lomba Sharia Economics Olympiad dalam rangka SECOND (sharia economics days) yang diadakan oleh FE UI selama seminggu. bayangkan saya nggak kuliah seminggu. sayang juga sih, tapi ya...mau gimana lagi ._. *pasrah tapi sebenernya seneng, mhehehe* 
sebenernya saya cuma mengisi kekosongan tim aja sih, hehe. dan..ya..sejujurnya ngga terlalu berambisius untuk menang. yang pertama dijadikan pengalaman dulu. tapi karena saya satu tim dengan senior, so i should give my best :) 

yah walopun preparenya kurang, kehabisan tiket kereta ke jakarta, saya juga kebetulan kok ya dijadikan koor acara (lagi -.-) di acara mubes mosaic (SKI fakultas). fakultas juga mau ada pemira (ya walopun ga jadi apa2 sih, tapi pengen jadi timses aja, mhehehe). belum lagi tugas kuliah yang numpuknya segunung, huhu. 

yah..begitulah curhatan saya sekarang ini. doakan semoga saya bisa menjalani kejutan-kejutan ini dengan baik :') 

(teringat: hayolho munaqosahnya gimana hayooo target taun depan udah ganti juz lho hayooo *kemudian pura-pura pingsan*)

Senin, 04 November 2013

Snow in Sahara

finally i'm back. exactly in new year, 1435 H :)

alhamdulillah mengawali tahun baru hijriah ini dengan bahagia. tadi pagi UTS filsafat dan alhamdulillah bisa menyelesaikan walaupun menggunakan firasat, alhamdulillaah.. *nangis haru* sorenya UTS bahasa inggris dan keluar dengan tampang melongo dan mbatin "ini seriusan begini soalnya?" 

dan rezeki hari ini ditambah traktiran dari mb ayu dkk, hoho :D jadi tambah bahagia deh kalo yang "rasa mbayar" begini.trus dilanjut ke toko buku daerah Ampel masih bareng mb ayu, mas affan, dan mas imam. oya belum saya kenalin ya siapa-siapa beliau?

yang pertama mb ayu. kalo liat mb ayu jadi inget mama. pertama karena sama-sama kecil #eh, kedua karena namanya sama kaya mama (mama namanya ningsih wahyuni, mb ayu namanya wahyu ningsih. mirip kan? hehe), ketiga karena jilbab dan niqob yg dipake sama kaya mama. mb ayu ini senior di kampus, ekis 2012. orangnya baik deh pokoknya :)

yang kedua ada pak atau om mas affan. beliau ini ekis 2011. angakatan sebenarnya dirahasiakan, hehehe :p asalnya dari madiun. dan beliau nya ini gokil abis. adaaaa aja bahan bercandaan kalo sama beliau. 

yang ketiga mas imam. asalnya dari mataram. pertama kali lihat beliau agak takut sih soalnya terkesan dingin gitu. tapi setelah kenal ternyata....nggak jauh beda sama mas affan ._. hoho. beliau nya ini aktif ikut lomba dan sering menang. intinya beliau ini pinter pake banget. 

ketiga senior itu sebenernya saya udah pernah ketemu setahun yang lalu bareng temen-temen teladan waktu ikut lomba N-SEO. dan kesan pertama setahun lalu dan sekarang bedaa banget. kecuali mungkin mb ayu, hehe. dulu waktu pertama liat terkesan cool gitu pake jas alma unair jadi panitia soal. eh setelah skrg sama-sama jadi sie soal jadi ngerti deh gimana aslinya, gimana ramenya, hehe. tapi dari kesemua itu beliau-beliau ini orang hebat yang mendedikasikan dirinya untuk islam, ekonomi islam, dan dakwah. lewat prestasi maupun aktivitas yang dilakukannya.

dan nggak cuma beliau2 aja. ada banyak lagi senior yang baik dan menginspirasi. dua bulan di surabaya ini banyak sekali kejadian manarik yang sayangnya saya belum sempat nulis. maybe next time saya bakal ceritain lagi. 

akhirnya setelah dua bulan, saya bisa mulai mencintai keberadaan saya di kota ini. kebahagiaan pertama ketika ditempatkan di PQA dan bertemu keluarga baru dimana kita tinggal seatap dan sama-sama berkomitmen untuk menghafal quran. kebahagiaan kedua ketika bertemu temen-temen liqo di surabaya dimana disini saya bisa men-charge iman dan semangat. dan kebahagiaan ketiga ketika bertemu dengan orang-orang yang saya sebutkan diatas, yang sudah seperti keluarga dan saya bisa mendapat banyak ilmu dari diskusi-diskusi dengan beliau-beliau :)

dan yang paling membuat saya merasa bahagia dan bersyukur adalah ketika Allah selalu menempatkan saya di tempat yang baik dengan orang-orang shalih dan para penuntut ilmu yang tangguh. sehingga membuat saya banyak belajar. bukan hanya tentang materi kuliah, tapi pelajaran dan pengalaman kehidupan lah yang lebih banyak saya pelajari.

di tengah kehidupan surabaya yang lebih keras dan hedon daripada kota yang saya singgahi sebelumnya, ternyata saya masih bisa menemukan banyak 'kesejukan' di dalamnya. ternyata saya masih bisa belajar di balik panasnya matahari yang menyengat, ada semangat para pejuang-pejuangnya yang tangguh untuk menjadi pemimpin peradaban :)

'alaa kulli hal alhamdulillaah.. :")




Rabu, 09 Oktober 2013

apakah surga

apakah surga semakin menjauh sehingga langkah kita mengendur?apakah deskripsi surga tidak lagi indah sehingga kita berhenti terengah-engah?

Senin, 26 Agustus 2013

jogja i'm in love

baru sepekan di surabaya kangen jogjanya udah numpuk-numpuk. seriously, jatuh cinta sama jogja itu gampang, tapi move on darinya itu yang susaaaaaah banget. terutama buat yang pernah tinggal di jogja.

6 tahun saya hidup dalam pelukan jogja. dari yang masih imut-imut lulusan SD sampe udah amit-amit lulus SMA. sebelumnya saya nggak pernah menyangka bakalan tinggal jauh dari orangtua selama itu. mulai apa-apa sendiri, belajar mandiri dalam segala aspek. apalagi waktu udah SMA, hidup di kos, harus bisa jaga amanah orangtua, amanah organisasi, amanah dakwah, dan lainnya. mengatur waktu, mengatur diri, dan yang paling penting...mengatur keuangan :D

ada banyak yang dirindukan dari jogja. segalanya bisa saya temukan. mau makanan enak, wisata kuliner? banyaak, datang aja ke sepanjang Jl. Kaliurang atau Jl. Godean. mau nyari makanan apa aja ada deh. mau dari yang murah sampai harga berbintang lima juga banyak. cari hotel atau penginapan? wuih, dari yang nggak berbintang sampe bintang lima komplit. tinggal pilih deh kalo pergi ke jogja pengen nginep dimana. tempat wisata? banyak bangeeet, nggak terhitung. wisata sejarah, kebun binatang, taman lampion, pantainya yang berjajar. duh, beneran jatuh cinta. apalagi...di jogja saya menemukan lingkaran jasad yang takkan terlupa. menemukan teman-teman seperjuangan yang tangguh, menemukan Teladan, menemukan alasan mengapa saya harus berkontribusi untuk dunia ini.

jogja menyediakan segala keistimewaannya untuk saya nikmati setiap hela nafas. menyediakan keindahannya untuk saya kecup dan rasakan manisnya. menyediakan kehangatannya untuk saya peluk. menyediakan kenyamanannya untuk saya pijak. dan jogja cukup baik telah mengizinkan saya menginap di pelatarannya selama enam tahun.

merindui setiap jengkal sudut jogja. merindui sahabat-sahabat terkasih yang masih terus berjuang disana. bahkan sampai sekarang kalo membaca pesan dari teman2 yg di jogja terkadang masih mbrebes juga. nggak tahan untuk nggak nangis. betapa rindunya, betapa ingin sekali dipeluknya lagi..

jogja, tunggu aku ya, tetaplah istimewa. keistimewaanmu membuatku banyak belajar memaknai setiap detik hidup yang terlewat.
tunggu aku, aku akan membali dengan membawa keistimewaanku sendiri, yang akan semakin melengkapimu.
tunggu aku ya... :")

malioboro street. find everything here

deburan ombak itu musik alam terindah

sebelum renovasi
Bali? No. this is Jogja!

Sabtu, 17 Agustus 2013

annyeong, surabaya :)

salam merdeka dari surabaya!

bukan, saya bukannya jadi arek surabaya, saya tetap putri solo yang singgah di surabaya hanya untuk sementara waktu #tsaah :D

well, here I am :)
kota pahlawan, kota dua matahari, kota metropolitan, kota yang asing sekali untuk saya. be nice to me ya, surabaya u,u

bismillah, ini pilihan saya, dan ini amanah dari Allah yang telah diberikan pada saya. semoga saya bisa tetap istiqomah dengan kondisi apapun disini, bisa terus berkontribusi (apalagi udah jadi mahasiswa loh), bisa terus menginspirasi, bisa terus lebiiiiiih baik. jadi nggak percuma pergi jauh2 ke surabaya :")

doakan saya terus ya :)

Selasa, 13 Agustus 2013

LONG TIME NO SEE YOU, MY BLOGIEEE!!! *maap lagi alay

oiya, mumpung masih syawal, taqaballahu minna wa minkum. mohon maap lahir batin ye my bloggiee..kamu sampe berlumut begini, hiks hiks

yasudah deh, setelah ini mau nge-post yang beneran, hwehehe.

selamat makan ketupat lebaran, selamat menikmati angpau, dan selamat ospek bagi maba *dumeh maba*  .__.

Senin, 08 Juli 2013

my precious gift ever

betapa harus bersyukurnya saya saat ini. Allah meridhoi perjuangan dan penantian saya selama ini. jodoh yang selama ini saya tunggu, akhirnya datang juga, bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan.

maka nikmat Allah mana lagi yang kamu akan dustakan, Nis? :')

masih teringat adegan pada sore, 8 Juli 2013 kemarin. menangis bahagia, pelukan bertiga sama mama-papa. akhirnya setelah beberapa kali keluarga kami diuji, saya bisa memberikan secercah senyum di wajah orangtua. bisa membuat mereka menangis bahagia dan lega. anaknya ini akhirnya bisa tembus universitas yang didambakan. dari seorang anak petani akhirnya bisa juga ke perguruan tinggi :'D

masih teringat dulu ketika orangtua tidak merestui pilihan ini saat mndaftar SNMPTN undangan. dan SBMPTN kemarin, saya benar-benar bersyukur akhirnya kedua orangtua meridhoi dan mendukung penuh pilihan saya. dan memang ridho orangtua adalah ridho-Nya pula. Allahu Akbar, Allah tunjukkan lagi kuasa-Nya pada saya.

ah, saya kehilangan kata-kata. bahagia ini tak terlukis dalam gambar maupun kata.

yang pasti, langkah setelah ini akan lebih berat. dan saya harus malu nanti ketika kuliah masih mengeluh. helloow, ini pilihanmu Nis, kamu susah payah untuk dapatkan ini, malu kalau nanti kuliah masih banyak mengeluhnya!

untuk teman-temanku yang masih berjuang lagi, yakinlah Allah amat mencintai kalian. Allah telah menyiapkan kado terbaik pula untuk kalian, dan akan didatangkan pada saat yang paling indah pula. doaku untuk kalian, selalu :')


Jumat, 05 Juli 2013

love will prevail

dunia. dunia. dunia.

dunia ini sedang memanas rupanya. tak henti-hentinya peperangan baik senjata maupun pikiran terus bergejolak membayangi saudara-saudara kita di belahan bumi lain.

saat ini indonesia sedang di rundung duka karena gemba bumi di Aceh, kenaikan BBM dan bantuan BLSM yang tidak merata, kasus korupsi yang semakin meluas, fitnah yang semakin menjadi.
Presiden terbaik (menurut saya) yakni Presiden Mursi, pemimpin Mesir, telah dikudeta militer Mesir sendiri. diambil kekuasaannya yang sah itu secara paksa. penggantinya bahkan tak lebih baik, dan mungkin perlu berabad-abad lagi bagi Mesir untuk mencari yang lebih baik.
Gaza under attack. sudah tak asing lagi dan Israel semakin girang karena pintu Rafah ditutup, sehingga semakin membungkam Palestina dari bantuan-bantuan negara lain.
jangan lupakan Suriah. negara yang sedang dijajah pemimpinnya sendiri itu semakin memprihatinkan. banyak orang tak bersalah ditembaki begitu saja.

tak ada kata yang lebih kejam dari kata 'dunia' saat ini. sungguh.
dan tak ada yang lebih menyakitkan dari rasa ingin membantu tapi tak punya daya apapun untuk membantu. yang kumiliki saat ini hanya doa ya Allah. doa yang trus mengalir untuk saudara-saudara kami.
saya mohon, tolong terus doakan saudara-saudara kita ya, sobat :")

***
Love Will Prevail by Maher Zain

There’s no fear in my heart
Got nothing left to lose
I saw my loved ones die
Oh, I swear that I won’t give in
By God you’ll never win
I’ll fight for what’s right
And nothing can stand in my way
Even if I get knocked down
I will stand my ground
And I’ll never
Hide or run away
Love will prevail
By God it will
Love will prevail
I refuse to fail
Love will prevail

Life’s become so cheap
So many orphans weep
They forgot how to smile
Oh, I cannot understand
Just how somebody can
Murder an innocent child
I swear their lives won’t be lost in vain
Even if I get knocked down
I will stand my ground
And I’ll never
Hide or run away
Love will prevail
By God it will
Love will prevail
I refuse to fail
Love will prevail
God made me free
You can’t take that away from me
Freedom is my destiny
I have a dream
And my dream is to see
To see all my people smile
See all of them free and proud
I feel the wind of peace
‘Cause with hardship comes ease
That’s why I won’t lose faith
And I know that God is Great
So, I’ll never
Hide or run away
Love will prevail
By God it will
Love will prevail
I refuse to fail
Love will prevail
I won’t run away
Love will prevail
By God it will
Love will prevail
I refuse to fail
Love will prevail

(Lyrics are taken from http://www.islamiclyrics.net/maher-zain/love-will-prevail/)







Sabtu, 22 Juni 2013

hujan setelah pertemuan kita

Malam setelah pertemuan kita, langit seolah ingin mencurahkan segala perasaanku. Rintik-rintik hujan menembus batas langit dan akhirnya jatuh di atas atapku. Bagaimana dengan atapmu? Terguyur derasnya hujan juga kah? :)

Hujan malam ini terdengar begitu syahdu untukku. Ia sedang menceritakan banyak hal padaku. Iramanya, baunya, dingin airnya, semuanya menarik. Sama seperti dirimu. Bagiku tak ada satupun darimu yang tidak menarik perhatianku.

Rintik diluar sana masih menjadi senandung pengiring tidurku. Tapi mata ini sungguh tak mau terpejam. Buliran air diluar sana seolah sedang merekam senyummu yang kemudian akan menari-nari ketika mataku tertutup. Aku…sungguh amat takut untuk melihatmu lagi. Bahkan dalam mimpi sekalipun. Aku hanya tidak ingin hidup di alam mimpi, membayangkan saat kau masih bersamaku.

Udara dingin menyeruak membuatku menggigil. Tapi kau tahu ada yang lebih dingin dari udara malam ini. Hatimu. Aku beri tahu, hatimu itu mungkin sedingin es di kutub utara. Dan dulu, aku selalu bisa menjadikan bongkahan es dalam hatimu itu perlahan meleleh. Sayangnya itu dulu…

Ah, aku tidak bisa lagi melanjutkan tulisan ini, maafkan. Karena segala tentangmu sepertinya tak pantas untuk tertulis disini. Segala tentangmu telah kubiarkan pergi bersama hujan malam ini. Selamat tinggal.



Minggu, 09 Juni 2013

graduation

with my beloved mama and papa <3 td="">

widy-me-tiwi. salah dua dari teman seperjuangan xii ips :))

elsi-me-nisa (yes, we have the same name)

sebelum pulang disempetin foto di depan dulu :B

love love love <3 td="">

*hug*

pilih nomer 3 ya #ups #iklan

my bestfriend ever!

*iklan lagi*
hihi suka deh soalnya kelihatan kurus :p

dari dulu foto bareng tingginya sama ._.

Senin, 27 Mei 2013

masih panjang

jalanmu masih panjang nis, ujian masuk kuliah nggak cuma ada satu, masih ada banyak jalan lain yang belum kamu coba.

percayalah, dengan mencoba banyak jalan, pada akhirnya kamu justru mendapat lebih banyak pelajaran berharga.

lekaslah berdamai dengan hatimu sendiri, lekas bangkit dan kejar yang masih tersisa di depanmu.
harapan itu masih ada, mimpimu itu masih menyala kalau kamu mau berlari lebih kencang lagi.

jangan berandai-andai, sudahi.
perbanyak lagi dzikirnya, perlama lagi sujudnya, persering lagi shaum sunnahnya. jangan bosan merayu-Nya, jangan bosan meminta pada-Nya.

percayalah, percayalah Allah masih mencintaimu, percayalah..
karena inilah cara-Nya untuk mencintaimu, membuat dirimu lebih tangguh lagi. membuat dirimu untuk lebih lebih lagi mencintai-Nya pula...


Sabtu, 04 Mei 2013

bukan sandiwara langit #end


“Anak sholeh, boleh Ibu pinjam robotnya sebentar?” tanya sang Ibunda Guru.

Bagus buru-buru menggelengkan kepalanya, kemudian menyembunyikan robotnya di balik punggung. Kemudian Sang Guru juga berbalik. Kini berhadapan dengan robot yang di genggam erat oleh Bagus.

“Kalau begitu, Om Robot, Ibu Guru boleh pinjam Den Bagus nya sekarang? Habisnya Den Bagus nggak mau ngomong tuh,” Ibu Guru mencoba bercanda.

Berhasil. Bagus tersenyum, sedikit. Kemudian melirik perlahan-lahan ke arah Ibu Guru.

“Den Bagus yang sholeh, robotnya kita ajarin ngaji yuk? Biar robotnya juga jadi robot yang sholeh? Gimana? Den Bagus setuju?” rayu Ibu Guru.

Bagus tidak berkata apa-apa, tapi mengangguk perlahan.Ibu Guru tersenyum. Sang Suami yang melihat dari jauh ikut tersenyum.

“Nah, ayok kita ajarin robotnya Den Bagus. Coba Den Bagus buka iqro’nya ya, biar Ibu Guru bantu,” kata Ibu Guru dengan sabar.

Bagus membuka buku iqro’nya. Hingga terbentanglah barisan huruf-huruf arab di hadapannya. Bagus menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menatap Ibu Guru, memohon bantuan.

“Nah, yang ini namanya alif, Den Bagus. Hurufnya kayak tongkat, panjang. Dibaca ‘a’. kalo yang mirip mangkuk besar dan ada telur satu di bawahnya itu huruf ba’, bacanya’ba’. Nah, kalo yang di sebelahnya, yang sama-sama mirip mangkuk besar, tapi ada dua telur di atasnya, namanya huruf ta’, di baca ‘ta’,” Ibu Guru mencoba menjelaskan dengan penuh perhatian.

Bagus mencoba mencerna. Raut wajahnya menampakkan sebuah kebingungan. Sepertinya apa yang Ibu Guru jelaskan belum ia pahami betul.

“Den Bagus mau coba sama-sama baca sama Ibu?”

Bagus menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. Ibu Guru tersenyum senang.
“Yuk kita baca sama-sama. A-BA-TA.” Ibu Guru membantu mengeja. Tapi Bagus tetap diam, hanya memperhatikan apa yang Ibu Guru baca, tidak menirukannya.

“Loh? Kok Bagus diam saja?” seorang gadis cilik berjilbab kuning mengomentari sebelum Ibu Guru membuka mulut.

“Temen-temen, sini deh. Ayo kita bantuin Bagus mengeja,” gadis jilbab kuning memanggil teman-temannya. Kemudian berkumpul sepuluh anak kecil yang ramai. Mengelilingi Bagus yang masih terlihat bingung.

“Hanya baca saja Bagus, ikuti Ibu Guru,” ujar anak laki-laki bertopi biru.

“Ayo teman-teman, kita baca bareng-bareng saja yuk, biar Bagus juga mau baca. Bagus janji ya, baca bareng-bareng kita?” jilbab kuning mengomando. Bagus hanya mengangguk ragu.

A, BA, TA,” serentak campuran suara sebelas anak kecil mengudara. Menembus batas-batas langit, hingga mungkin menggetarkan awan-awan yang di lewatinya.

“Eh, tadi Bagus baca juga. Ayo coba Bagus baca sendiri,” giliran topi biru kembali angkat suara.
Bagus malu-malu, kemudian memandangi buku iqro’ di depannya. Ia memejamkan matanya, sebentar, kemudian membuka matanya lagi. Tersenyum.

A, BA, TA.”
Lantang. Tapi kali ini bukan suara sebelas anak kecil. Kali ini sebuah suara yang di miliki seorang anak berumur tujuh tahun. Yang sejak dua tahun lalu hidup sebatang kara di panti asuhan. Yang sejak dua tahun lalu hanya berteman sebuah robot peninggaalan ayah tercinta. Dan yang sejak dua tahun lalu berhenti berbicara. Kali ini adalah suara pertamanya setelah dua tahun bibirnya terkunci rapat tanpa sebuah kata. Setelah dua tahun peristiwa menyedihkan menimpa ayah ibunya. Dan suara pertama yang ia ucapkan adalah “A, BA, TA”.

Sepasang suami istri yang kini berdiri berdampingan menampakkan wajah haru gembira. Melihat anak-anak kecil yang sedang asyik menghabiskan bekalnya. Saling berbagi, berebut, mengejek, dan ulah kekanakan lainnya.
Hingga tiba ketika matahari akan tenggelam menunggu hitungan menit. Anak-anak kembali bertemu dengan orangtua tercinta mereka. Kelas mengaji sore hari mereka telah habis. Saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Saatnya untuk pulang ke dalam pelukan hangat ayah dan bunda. Sedang kedua guru itu harus merelakan mereka kembali kepada orangtuanya. Waktu yang mereka punya untuk ‘memiliki’ anak-anak itu hanya sembilan puluh menit dalam sehari.

“Ayah, andaikan saja Allah memberi kita kesempatan untuk memiliki cahaya-cahaya seperti mereka,” ucap Sang Istri tiba-tiba sembari menghapus genangan yang ada di pelupuk matanya.

“Sudahlah Bunda, jangan berandai-andai. Allah telah menggariskan yang terbaik untuk kita. Bersabarlah, jalan Allah selalu ada,” Sang Suami mencoba menenangkan, walaupun sebenarnya ia merasakan hal yang sama.
Kemudian dengan tiba-tiba Sang Suami menarik tangan istrinya. Mengajaknya menghampiri seseorang yang berjalan sendirian dengan robot tergenggam di tangannya.

“Bagus, tunggu,” ujar sang Bapak Guru. Bagus menoleh sejenak, menghentikan langkahnya.

“Ayo kita pulang sama-sama,” ucap Sang Guru. Bagus terlihat kaget.

“Bagus mau nggak, kalo Ibu Guru jadi bundanya Bagus?”

Sang Istri terperanjat, kaget. Kemudian menggenggam erat tangan suaminya. Memahami apa yang suaminya maksudkan. Kini tinggal menunggu apa jawaban Bagus.

Bagus terlihat berpikir sejenak. Di antara sayup-sayup adzan maghrib yang terdengar, ia mengangguk dan tersenyum senang. Sepasang suami-istri itu tak terhitung bahagia rasanya. Sang Istri mengucap hamdalah berkali-kali hingga menitikkan air matanya.

“Baiklah. Ayo sekarang kita sholat dulu. Setelah itu kita ke panti untuk mengambil barang-barang Bagus dan berpamitan dengan orang-orang di panti. Yuk,” ajak Sang Ayah.

Sang Ayah menggamit tangan kanan Bagus, sedang tangan kirinya di genggam oleh ibu guru yang kini menjadi bundanya itu.

Dalam langkah beriringan keluarga kecil yang baru saja terbentuk itu saling mengucap syukur dalam hati. Bersyukur atas segala keterbatasan yang mereka miliki. Bersyukur atas hadirnya sosok-sosok yang mampu melengkapi keterbatasan itu. Bersyukur atas kebahagiaan yang pasti ada walaupun kadang tersembunyi. Bersyukur, bersyukur atas segala yang mereka miliki dan tidak mereka miliki.

Matahari kini sempurna tenggelam. Berganti bulan yang malam ini masih separuh. Gemintang mengerlip, formasi-formasinya yang menakjubkan membuat elok paras langit malam. Sang hujan tidak jadi turun malam ini. Mungkin ia memberi waktu kepada mereka yang sedang berbahagia untuk bersyukur mengenang nikmat Tuhannya. 

Senin, 01 April 2013

morning lesson

pagi ini disambut dengan rasa haru ketika berangkat sekolah. 
seperti biasa, jalan dari kos ke sekolah. sampai  di depan gerbang sekolah, saya melihat adek kelas, ikhwan, pake jaket POH yang baru turun dari boncengan ayahnya. 
yang membuat saya sangat terharu sampai hampir menitikkan air mata itu, adalah jaket/rompi berwarna kuning terang yang bertuliskan 'satuan ojek ...' yang dikenakan ayahnya.
si adek tadi mencium punggung tangan ayahnya takzim.
lagi-lagi saya hanya bisa memperlambat jalan sambil menahan haru, melihat drama di pagi ini.
seorang anak yang rela diantarkan sang ayah dengan berbangga hati.
tidak, saya tidak mau mengatakan pekerjaan itu 'hanya' sopir ojek. 
karena bagi saya semua profesi itu hebat. sama-sama memberi kemanfaatan.

sungguh, Allah tak henti-hentinya membuat saya belajar. membuat saya lebih qana'ah. membuat saya menghentikan keluhan. membuat saya harus merasa bersyukur setiap saat.




Jumat, 29 Maret 2013

perempuan jawa


Aku terlahir dengan darah murni orang Jawa. Mama dan papa sama-sama orang Jawa asli. Meskipun kami bukanlah penganut aliran Jawa-isme, tapi tetaplah kami sebagai orang Jawa. Suku yang memiliki tata-krama cukup tinggi menurut saya.

Sebagai seorang Jawa, ada banyak sekali mitos yang sering berkeliaran di telinga saya. Misal, kalo makan di depan pintu, nanti jodohnya jauh. Kalo nyapu nya ga bersih, nanti suaminya brengosan, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya, mitos-mitos itu hanyalah senjata agar orang Jawa tidak melakukan tindakan yang dinilai tidak ber-etika. Mitos tersebut dijadikan nilai sosial oleh mayoritas orang Jawa. Sesuatu yang dianggap berharga dan patut dipertahankan. Misalnya, kalau kita makan ya tempatnya di meja makan, kalau duduk ya di kursi, bukan di bantalan tidur, kalau makan harus bersih dan tidak kecap, dan sebagainya.

Itu tadi baru sebagian tata kelakuan dari orang Jawa. Untuk bagian perempuan, lebih banyak lagi. Lebih banyak yang harus diperhatikan ketika menjadi bagian dari perempuan Jawa. Tapi yang sering saya lihat sekarang, banyak perempuan Jawa asli yang sudah lupa identitas 'Jawa' nya.

Yang pertama, sebagai seorang perempuan Jawa (terutama bila sudah baligh) haruslah bisa mengurus dirinya sendiri. Urusan pribadinya harus beres. Karena nanti dia yang akan mengurus rumah tangganya.

Sebagai seorang perempuan Jawa, dan saya rasa di suku lain pun seperti itu, perempuan dituntut untuk bisa memasak. Sebenarnya saya tidak suka bahasa 'menuntut' itu, karena bagi saya, memang kodratnya perempuan itu harus bisa masak. Apalagi kalo sudah menikah, masakan bisa jadi penambah keharmonisan rumah tangganya.
Sedikit banyak, bagi saya seorang perempuan Jawa haruslah bisa memasak. Bisa menakar kadar gizi untuk keluarganya nanti. Memastikan keluarganya makan dengan sehat dan teratur. Sehingga anak-anak dan suaminya nanti tidak perlu memakan jajanan diluar rumah yang belum jelas thoyyibnya.

Perempuan Jawa itu harus bisa menjaga keharmonisan dan martabat rumah tangganya. Menjaga keluarganya dari fitnah dan gunjingan. Menjaga suami dan anak-anaknya. Membantu suami meringankan perkerjaan, memotivasi dan menguatkannya, memperhatikannya dengan penuh sayang. Juga  membimbing anak-anaknya dengan baik agar menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya.

 Perempuan Jawa juga tidak neko-neko. Sederhana dan apa adanya meski ia dari bangsawan sekalipun. Rendah hati dan sopan-santun itulah yang biasa menjadi ciri dari perempuan Jawa. Tidak suka nongkrong hanya untuk kesenangan semata yang sia-sia. Perempuan Jawa lebih suka membuat kreasi masakan dan dekor di rumah daripada mendatangi cafe-cafe atau mall hanya untuk sekedar nongkrong.

Tetapi perempuan Jawa juga harus bisa belanja. Ya, belanja. Memenuhi kebutuhan di rumah. Memberikan pakaian yang layak untuk keluarga. Memilihkan jas yang baik untuk suami. Memakaikan anaknya pakaian yang pantas dan sesuai syariat.
Apabila ada kolega yang sedang punya hajat juga terampil untuk menggunakan anggaran membeli buah tangan. Membawa bingkisan untuk bapak-ibu maupun mertua juga termasuk dalam ini.
Tentunya belanja yang sesuai dengan anggaran rumah tangga. Tidak berlebihan tapi pantas.

Oya, yang tak kalah penting, perempuan Jawa harus bisa dandan. Berdandan disini maksudnya bukan dandanan menor begitu. Tapi dandan yang sewajarnya. Misalnya dengan mandi sehari dua kali. Agar terlihat bahwa perempuan Jawa wajahnya cerah berseri. Adapun berdandan yang sesungguhnya, hanya ia kenakan di dalam rumah ;)

Yang terakhir dan paling penting, perempuan Jawa diharap memiliki pendidikan. Baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan formal misalnya dengan sekolah hingga menuju dunia kampus. Semakin tinggi jenjangnya, semakin banyak pula ilmu dan wawasannya. Semakin luas pengetahuannya untuk mendidik anaknya nanti.

Pendidikan non formal misalnya ketrampilan menjahit, membuat kue, membuat kerajinan tangan, menyetir, dan banyak kegiatan positif lain. Gunanya untuk menambah ketrampilan perempuan. Kalau-kalau nanti sang suami lebih memilih sang istri untuk bekerja di rumah mengurus anak, maka ada suatu hal yang bisa 'disambi'.

Dan yang paaling utama, perempuan Jawa haruslah memiliki bekal agama yang minimal baik. Kalau bisa lebih malah. Karena pada agama dan tuntunan-Nya lah semua itu bersumber.

Ingat, seorang ibu itu menjadi tonggak bagi bangsanya. Dari rahimnya lah kelak akan lahir jundi-jundi kecil yang akan meneruskan perjuangan orangtuanya. Maka bila sejak kecil si anak sudah ditanamkan ilmu-ilmu ukhrowi, akan banyak sekali calon generasi penerus bangsa yang insyaAllah akan lebih baik lagi. Generasi rabbani.

Saya orang Jawa. Tapi tanpa Indonesia saya takkan pernah menjadi seorang Jawa. Dan yang pasti, saya seorang muslimah. Saya akan berusaha sekuat mungkin menjadi seorang perempuan Indonesia berdarah Jawa yang bisa mengharumkan nama agama dan bangsa saya. Saya akan berusaha untuk menjadi agen muslim yang baik :) 

Senin, 25 Maret 2013

Bukan Sandiwara Langit #1


Sore itu langit masih berbaik hati menangguhkan hujannya, sehingga mentari yang akan berbaring terlihat meganya. Langit semakin terlihat mempesona dengan kumpulan kumulus yang berarak perlahan, menyisakan bias-bias putih seperti bunga kapas.

Sore ini taman yang terletak di pusat kota sudah mulai ramai. Lampu taman dinyalakan satu persatu, mulai dari ujung utara hingga selatan. Namun tetap, terangnya tak mampu mengalahkan sang jingga yang meski berbayang. Bangku-bangku taman di penuhi pasangan muda-mudi yang sedang asyik bercengkerama, beberapa orang tua dan keluarga kecil memilih menggelar tikar dan menyiapkan bekalnya di bawah pohon flamboyan yang tengah berbunga.

Sepasang suami istri mengarahkan sebelas anak-anak kecil berbaju muslim ke pojok taman. Menggelar tikar, meletakkan tas dan bekal-bekal mereka ke atasnya. Kemudian mereka semua membuat formasi lingkaran besar. Sang suami dan istri duduk berseberangan. Di sekelilingnya ramai anak-anak yang asyik berceloteh ria.

“Fika, kamu bawa bekal apa? Aku dibuatin ayam goreng nih sama mama,” celetuk seorang gadis cilik berbaju merah.

“Cuma mie goreng. Ibu nggak sempat masak apa-apa,” gadis cilik yang di panggil Fika menjawab sambil menunduk lesu.

“Yasudah, nanti kita bagi berdua ayam gorengnya, Fika,” ujar gadis berbaju merah sambil tersenyum riang.

“Anak-anak, ayo kita mulai ya ngajinya, ayo bareng-bareng baca basmalah dulu,” Sang Suami memulai forum, membuat percakapan ringan di antara mereka terhenti seketika.

Serentak bacaan tasmiyah menggema di pojok taman itu, menggetarkan ranting-ranting flamboyan di atasnya. Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Bu, Lia nggak bisa baca yang ini,” seorang gadis bernama Lia menghampiri Sang Guru. Sang Guru dengan sabar menuntun muridnya membaca kata perkata dalam buku Iqro’nya.

“Kalau alif ketemu sama huruf lam, di baca ‘al’. jadi apa hayo bacanya?”

Al-ka-ma-ri-ya-tu,” sang gadis mengeja.

“Hmm, coba bareng-bareng sama Ibu. Bacanya al-qo-ma-ri-ya-tu. Begitu Lia bacanya.”

“Oooh iya ya Bu, habisnya huruf qof sama kaf kan kalo di baca hampir mirip Bu,” ujar si gadis kecil. Mengucap terimakasih kemudian kembali melanjutkan membaca sendiri.

“Bapak Guru, si Bagus nggak mau baca iqro’ lagi tuh. Masa dari awal sampe sekarang dia cuma mau maen tapi nggak mau baca iqro’,” seorang anak laki-laki mengadu.

Sang Guru kemudian beranjak, menghampiri sesosok anak laki-laki berumur tujuh tahun yang asyik bermain dengan robot-robotannya. Dari awal pertemuan hingga hari ini dia masih belum mau mengaji. Mereka pikir, Bagus hanya sedang butuh waktu untuk beradaptasi dengan teman-temannya. Setelah melihat teman-temannya yang antusias belajar mengaji, ia pasti mau. Tapi ternyata perkiraan mereka sedikit meleset. Hingga hari ini Bagus masih tetap tak mau memegang buku iqro’nya.

“Bagus kenapa? Kok dari kemarin nggak mau ngaji?” tanya Bapak Guru.

Bagus hanya diam saja, masih asyik bermain dengan robot-robotannya. Tidak ia pedulikan Sang Guru yang duduk di sampingnya, mencoba merayunya untuk sekedar membaca satu alif.

Sang Istri datang, memegang lembut pundak suaminya. Dengan matanya, Sang Istri memberi isyarat pada suaminya untuk ‘menyingkir’. Sang Suami yang paham kemudian bangkit dari duduknya, dan beranjak menghampiri murid lainnya.
‘Ah iya benar, biasanya ini kan tugas ibu-ibu. Mengurusi anak yang spesial,’ batin Sang Suami.

*to be continued* 

Nyeri

bukan nyeri biasa. nyeri ini cuma dirasain sama kaum perempuan.
rasanyaa...nggak bisa diungkapkan deh.
bayangin aja, kalo bagian dalam rahim itu terkikis pelan-pelan. ya mirip-mirip gitu lah rasanya.
kalo nggak salah memang begitu kan ya prosesnya? sel telur yang tidak di buahi menempel pada rahim, kemudian karena tidak menjadi zigot, dia akan luruh. *besok Ekonomi ujiannya bukan Biologi -___-

dan ya, besok TPHBS hari kedua.bahasa inggris berpasangkan ekonomi.
dan ya, sama seperti sebelum-sebelumnya, saya terlampau sering untuk kedatangan tamu ketika ujian.
yang berakibat sampai menjelang pagi belum bisa tidur. tapi juga nggak belajar. cuma mlungker-mlungker, guling-guling, nahan rasa sakit perut yang teramat.

emang sih nggak semua perempuan ngalamin sakit yang sama. ada yang lancar-lancar aja. tapi ada juga yang sampai pingsan saking sakitnya. katanya sih tergantung pola makan, pola olahraga, bisa juga genetik.

dulu seriiiing banget ngeluh kalo lagi sakit begini, bilang sama mama,
"ma, kapan sih berhenti sakitnya? sampe kapan bakal ngrasain sakit kaya gini terus?"
dan banyak lagi keluhan-keluhan yang keluar.
dan mama dengan enteng menjawab,
"dulu mama juga gitu kok. besok berhenti sakitnya kalo udah melahirkan"
jeng jeng.... kaya disamber geledek dengernya.
setelah dihitung-hitung, kalo setahun ada 12 bulan, kalo target nikah saya 4 tahun lagi, dan target punya anak 6 tahun lagi, berarti 12x6 = 72. ya, kalo umur saya masih ada sampai 72 bulan lagi, barulah 'nikmat yang berupa sakit' ini hilang. subhanallah...

jadi bisa menilai bahwa perempuan itu memang mulia. gimana nggak, datang bulan udah sakit, besok kalo melahirkan lebih sakit lagi. tapi ya justru itulah yang membuat kedudukan perempuan itu mulia. kalo dia bisa sabar menghadapi semua itu pastinya *tuh nis, sabar*
subhanallah... merasa wow gitu terlahir jadi perempuan, hehe

sekedar pesan aja untuk diri sendiri, kalo sakit yang Allah kasih itu ada hikmahnya juga. misalnya kaya sekarang ini, karena lagi nggak sholat jadi belajarnya harus di kencengin lagi. walopun nggak ngaji, tapi ma'tsurot sama muroja'ahnya tetep lancar jaya. biar nggak semakin jauh dari Allah.
:')

betewe ini kenapa saya udah minum obat segala macem ga ngantuk dan ga ilang sakitnya juga ya x_x yasudahlah sabar....
semoga besok ngerjain TPHBS nya lancar jaya juga. amiiin o:) #kelastiga


Selasa, 19 Maret 2013

Aku, FLP, dan dakwah kepenulisan

Pagi-pagi gini dapet sms dari Mas Angga (ex Ketua FLP Yogya yang sekarang jadi kadiv kaderisasi). Beliau sedang baca esai yang pertama kali saya buat waktu open recruitment FLP 14. Dan beliau berkata "... ingin juga merasakan energinya kan?"

Daan, bener aja, beliau mengabarkan sebentar lagi mau ada Oprec FLP 15 dan Empatik 2 untuk angkatan 14. Soo, yang mau gabung sama kite-kite di FLP Yogyakarta persiapkan diri yak ;)

Dan ini tulisan setahun lalu waktu gabung di FLP

                                                                         ***


            Bagiku setiap tinta-tinta yang di goreskan adalah cinta. Dan cinta yang indah apabila tinta tersebut membentuk jalinan kata yang menyejukkan. Cinta yang tulus jikalau jalinan kata tersebut mampu merasuk ke dalam setiap nadi pembacanya. Cinta yang abadi, apabila setiap kalimat yang merasuk dalam nadi tersebut selalu mengingatkan pembaca kepada-Nya.
            
            Bagiku menulis tidak sekedar menggoreskan pena di atas kertas. Bagiku menulis merupakan suatu nafas yang setiap helaannya membawa cerita tersendiri. Bagiku tulisan merupakan sebuah perkataan dalam diam. Bagiku tulisan merupakan cerita yang tak dapat diucapkan. Dan bagiku, menulis seolah menanam benih, yang siap tumbuh menjadi bunga yang cantik.
            
            Setiap orang pasti bisa menulis. Setiap orang diberi kebebasan untuk menulis. Setiap orang berhak memilih apa yang akan ditulisnya. Sama seperti ketika seorang petani hendak menanam ladangnya. Ia bebas menentukan tanaman apa saja yang akan ia tanam. Ia bisa memilih jati, sehingga kayunya yang kokoh dapat dimanfaatkan untuk membuat sebuah pondasi. Ia pun dapat memilih buah apel, yang nantinya akan berbuah merah dan manis bila masak. Ia juga bebas memilih aneka bunga yang hendak bermekaran di ladangnya kelak. Dan aku, hendak menanam semuanya yang bermanfaat. Tak peduli itu jati, apel, atau mawar, bagiku mereka semua sama-sama memberi manfaat. Dan seperti jati, apel, atau mawar, aku ingin tulisanku bermanfaat pula.
           
           Pertama kali mengenal FLP ketika duduk di bangku SD. Saat itu seorang penulis bernama Izzatul Jannah mengunjungi sekolahku yang terletak di kota Surakarta. Saat itu aku tidak bergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik, tapi entah mengapa aku mengagumi bahasa-bahasa yang mereka tuliskan. Bahasa puisi khas anak SD yang menggambarkan pesona alam.
          
         Menginjak SMP, kembali tulisanku menghiasi lembar-lembar buku catatan. Hingga kemudian tergabung dalam sebuah ekstrakurikuler Jurnalistik yang tentornya dari FLP. Mengenal Mbak Biaz yang kini telah menuliskan sebuah novel berjudul “Bias Nuansa Jingga”, kemudian Mbak Flo, yang sewaktu SMA ini aku kembali bertemu dengannya di beberapa acara.

Melihat sosok-sosok akhwat tangguh seperti mereka membuatku amat sangat tertarik mempunyai keluarga bernama FLP. Semenjak saat itu selalu mengidamkan, “kapan ya bisa masuk FLP?”

Selalu mendambakan memiliki sebuah keluarga, yang disana kita tidak hanya belajar berorganisasi, tetapi juga belajar mengenai ukhuwah, dan tentunya dakwah. Dakwah melalui pena. Dan itu yang membuatku cinta. Aku ingin berdakwah melalui media yang aku sukai, yakni tulisan. Walaupun aku mafhum tulisanku belum sebaik penulis-penulis lain.

Maka dari itulah aku kemari. Belajar untuk memperbaiki kualitas tulisanku, kualitas dakwahku. Agar para mad’u nantinya datang berbondong-bondong, ikut menegakkan syi’ar Islam di bumi tempat kita berpijak. Karena sesunguhnya suatu tulisan itu dapat mengendalikan emosi dan pikiran kita. Mengendalikan jiwa-jiwa yang sedang marah kembali tenang, mengembalikan pikiran-pikiran yang buram menjadi sejernih embun.
Aku, FLP, dan Dakwah Kepenulisan… semoga semuanya serasi berpadu, membentuk sajak-sajak merdu yang menggema, merindu surga-Nya.

                                 

Minggu, 17 Maret 2013

dilemma


Lagi-lagi dipusingkan masalah perkuliahan. Bertanya-tanya, kenapa masalah ini ga pernah simpel? Tepatnya, kenapa kamu kesusahan mikirnya, Nis?

Jadi setelah rundingan sama ortu, beliau rela anaknya ini ngga jadi masuk sastra arab (udah pernah cerita kan ya di postingan sebelumnya). Ortu sepertinya udah mulai 'terbuka' tentang kuliah2an ini. Dulu beliau minta masuk sastra arab, krn pengen anaknya ini jadi dosen aja, yang sholehah gitu. Jadi belajar bahasa arab sekaligus hafalan Qur'an.
"Ya kalo mau jadi hafidzah masuk sastra arab aja mbak, belajar bahasa arab mudahin kamu buat hafalan."

Itu dulu. Dan sekarang ortu bener2 pengen nisa keterima di Manajemen UGM. Fakultas Ekonomika dan Bisnis terbaik di Indonesia *menurut versi tertentu*. Gimana nggak keder juga gue (́_̀) secara nilai rapor ngepas dan saingannya banyak bangeeeeet.

Dan semakin kesini, nisa justru pengen berhijrah ke kota dua matahari, Surabaya. Tertarik ke jurusan Ekonomi Islam yang dipunyai Bang Airlangga ( `ะท´ )

Tapi, lagi-lagi ortu pengen di Jogja. Sebenrnya ga cuma ortu, tapi banyak yang kepengen nisa tetep stay di Jogja. Secara kalo di Manajemen itu kesannya 'woww' banget gituh. Selain itu juga, yang bikin kepikiran itu amanah2 yg masih kececer di Jogja. Serasa ngga tau diri banget kalo tiba2 menghilang dari peredaran Jogja padahal tugas2 masih banyak. Hiks..

Pengennya nisa itu, punya pengalaman yang banyaak banget. Setelah ngga dibolehin kuliah di luar negri *dan sampe sekarang masih ngimpi ke Jerman* minimal boleh lah kalo nisa keluar kota. 12 tahun di kota kecil kaya Solo, lanjut 6 tahun di kota yang lebih besar, Yogyakarta, dan sekarang nisa pengen ke kota yang lebih besar lagi, Surabaya atau Jakarta (Depok, UI).

Dan kok ya jurusan yang nisa pengen itu adanya di Unair ato UI.

Tapi nisa ngga mau egois juga. Sekarang bener2 nyerahin semua keputusan ini sama Allah. Nisa yakin Allah bakal ngasih yang terbaik. Kalo emang Allah percaya nisa bakal 'safe' di Surabaya, ya insyaAllah dengan cara-Nya nisa bisa kesana. Tapi kalau Allah merasa nisa belum cukup dewasa dan ternyata di jogja masih banyak yang butuh nisa, ya nisa kudu ikhlas juga kalo akhirnya harus stay di Jogja. 
Mungkin, besok2 bakal ada sosok yang lebih dewasa yang ngebawa nisa ke kota2 besar atau bahkan negara2 besar selain Indonesia. Amiiiin *blush*

Oiya, sebenernya masalah jurusan ini juga menimbulkan kontroversi *halah*. Tapi lain kali aja deh ya nisa ceritanya.

Mohon do'anya :') 

Sabtu, 16 Maret 2013

daun kering


long time no see :)
lagi ujian sekolah nih. masih dua hari lagi. habis ini masih ada mid test, terus dua latihan ujian nasional lagi. fyuuh.. subhanallah ya kelas XII ituh :)

ujian kali ini dapet ruang di lantai tiga, tempat pas di depan meja guru, disamping jendela. asik banget, kalo udah selesai ngerjain soal bisa nengok-nengok keluar, ngeliat jalan, lapvol, pos satpam, dll.
apalagi kalo pas hujan atau mendung kaya tadi. bawaannya syahdu, jadi banyak merenung.

bahan renungan tadi pagi adalah, sehelai daun. ya, sehelai daun.

sehelai daun yang hijau, yang mengandung banyak klorofil di dalamnya, pasti akan sangat kuat menyatu dengan tangkai daun dan ranting pohon. entahlah ada unsur apa saja yang terkandung dalam sehelai daun (well, i'm a social student, we didn't study biology, etc, we studied about 'people'), tapi yang pasti daun berwarna hijau itu lebih enak dilihat, lebih segar, lebih memberi semangat.

beda dengan daun yang telah menguning, yang mungkin saja sudah tidak ada zat-zat yang terkandung didalamnya. hinggalah ia pada masanya mengering, mudah terkoyak, mudah diterbangkan angin, hingga akhirnya terhempas begitu saja di pelataran bumi.

dan iman seorang manusia itu mirip dengan sehelai daun itu. kalau iman itu kurang asupan 'gizi' nya, ia akan mudah mengering, terkoyak, dan terbawa angin. ia akan mudah jatuh dan di jatuhkan.
betapa mengerikannya.
tapi itu kerap kali terjadi.
astaghfirullah...astaghfirullahal'adziim..
lindungi kami dari mengeringnya iman dalam hati kami ya Rabb.. :')

*muhasabah diri*

Rabu, 20 Februari 2013

Teorama Sosiologi #1


Rasanya aku belum menggunakan sepenuh pikirku untuk menyelesaikan soal-soal ini
Karena yang separuh telah kugunakan untuk mengidentifikasikanmu
Aku bahkan tiada bisa menentukan mana variable bebas dan terikat
Yang aku tahu, kebebasan itu milikku
Kebebasan untuk menyimpanmu dalam dominasi hatiku

Kau bukan random sampling yang tak sengaja kutemukan
Tapi kau adalah titik interseksi diriku
Hingganya ada padaku sebagian dirimu, dan diriku di sebagian dirimu

Play stage dan game stage telah berlalu dibelakang kita
Masa dimana semua hanya permainan dan kesenangan
Lantas, kita harus bergerak progresif, bukan?

Dan langkah progresifku,
Adalah menjadi salah satu bagian dari afeksimu

Kamis, 07 Februari 2013

calon bidadari surga

berbulan sudah ia berjuang
entah apa yang ia rasakan, kami tak pernah tahu
hanya hati teriris bila mendengar kabarnya

ya Rabb, bahkan di usia berbilang bulan sepertinya
Engkau telah membuatnya merasakan nikmatnya berjuang
ia berjuang dengan caranya.
ia bertahan,
karena kami masih ingin menikmati senyumnya

namun, Engkau lebih mencintainya. ya Rabb..
Engkau sudahi perjuangannya yang letih
Engkau gantikan rasa sakit itu dengan surga-Mu

dulu kedatangannya kami sambut dengan gembira
dan kini, kepergiannya kan kami ikhlaskan
karena kami tahu janjimu tak pernah pudar
untuk menjadikannya bidadari di surga-Mu

kami mencintainya, tapi cinta-Mu padanya lebih
kami merindukannya, tapi rindu-Mu padanya lebih
hingga Engkau mengutus bumi untuk memeluknya hangat

ya Rabbi.. jadikan ia bidadari surga-Mu
yang nantinya akan menanti kedatangan keluarganya
merawat istana-istana keluarganya di surga

dan jadikan kami, untuk senantiasa merindu
merindu kematian,
merindu menjadi bidadari surga sepertinya

kamis, 7 Februari 2012.
untuk dek Fathina Rufaida, adik dari sahabat tercinta. maaf amah tidak bisa mengantarmu ke pelukan bumi, sayang. tapi doa amah disini untukmu. tunggu amah di surga ya sayang... :')

untuk dek Dara Afifah, SMPIT ABY ashma merenggut nyawanya. dalam keadaan shaum sunnah. dalam keadaan 15 juz dalam genggamannya. dalam keadaan tholabul ilmi yang jauh dari rumah dan keluarganya. walaupun belum pernah bertemu, tapi saya doakan semoga Allah berikan untukmu istana terindah di surga, amiin :")

Rabu, 16 Januari 2013

menyapa alamanda


Apakah alamanda itu tengah berbincang kepadamu? Ataukah ia hanya mampir dan sekedar menyapamu? Atau mungkin, ia hanya membawakan sekeranjang pie titipan bibi melati?

Apapun alasannya, sungguh aku cemburu…

Pada alamanda biru yang menawan itu. Aku bisa melihatnya pada matamu, yang menjadi bening ketika memandang takjub pada nona alamanda yang manis. Percayalah, mataku menangkap hal yang sama dengan matamu. Aku pun terpesona dengan nona biru yang tengah berjalan anggun. Tapi kulihat kau lebih terpesona. Sudut matamu mengikuti setiap langkah kakinya yang jenjang sempurna.

Kepada tuan yang tengah berdiri di ujung sana, mengapa kau masih saja melihat nona cantik itu yang perlahan menjauh? Bahkan kau terus menunggu hingga bayangnya hilang. Tidakkah kau mampirkan pandangmu kesini, tuan? Kepadaku?

Kepada setangkai yang mulai mengering..