Jumat, 02 Desember 2011

tak bisakah kita menjadi sebuah komunitas seimbang?

Mungkin yang terlihat hanya ideologiku dan ideologimu yang berdeferensiasi. Padahal sejatinya kita berbeda kasta. Kau Satria dan aku Sudra. Kau ditengah upper classmu dan aku diantara golongan lower class. kau dapatkan ascribed statusmu dengan mudah. Sedang gelar prestasi harus kudapat dengan bersosialisasi selama bertahun-tahun.


Namun konsolidasi hati ini sepertinya mengalahkan segala konflik. Tak perlulah arbitrasi, karna aku hanya ingin berdua denganmu, tanpa orang ketiga.


Terlalu banyak akomodasi yang telah kita lalui, hingga kaupun menyadari kita hanya berdiri di satu titik. Titik interseksi yang mempertemukan sebagian hati kita masing-masing. Namun ruangku berseberang jauh denganmu. Kau berada jauh, di utara titik interseksi kita, sedang aku menyendiri di ujung selatan. Aku tau sekuat apapun aku berlari, dinding pemisah ini tak akan mudah tertembus. Batasan vertikal ini terlalu jauh untuk kujangkau. dan aku terlalu lelah untuk sekedar ber-ajudikasi dengan sang hakim.


Aku tau, kau Nordic dan aku Veddoid. Tentulah stratifikasi ras ini yang semakin menyulitkan kita untuk sekedar ber-integrasi. Tak ada lagi solidaritas. Mereka menginginkan pengakuan separatisme akan koordinasi yang telah kita ikat kuat. Kalau tidak, sanksi akan mengekang antara kita. Mereka bilang norma adat tak lagi kita usik.

Namun, apakah sejarah yang sama, yang aku dan kau sama-sama miliki, tak bisa menjadikan kita sebuah komunitas seimbang?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar