Rabu, 12 Oktober 2011

bias sakura


Diluar, angin masih sepoi-sepoi. Menerbangkan dedaunan kering di halaman, melambaikan lengan-lengan daun pinus. Di kampus cemaraku, sore ini tinggal sepi. Meski masih terlihat beberapa remaja berseragam abu-abu putih melintas. Tawanya terdengar sekilas, namun lamat-lamat menjauh hilang.

Aku bersandar, pada pondasi kuat hijau muda. Dalam rengkuhan kubah biru beralas lantai hijau zamrud.
Didepanku, menanti seorang dengan sabar.

"ada apa ukh? Ceritalah.."

Aku diam. Bukan karna aku tidak ingin bercerita, bukan. Tapi, rasanya sulit merangkai kata dengan tenggorokan yg tercekat. Tak mudah berbicara dgn dada yg menyesak menahan tangis.

"menangislah ukh, keluarkan semuanya"

Satu,dua,tiga bulir bening mengalir dr pelupuk mataku. Lama-lama tak hanya satu dua, lama-lama kantung air mata itu seperti aliran sungai, yang berakhir menuju hulunya.

Ia, ukhti shalihah didepanku itu merengkuhku.
Tangisku redam dalam peluknya. Aku merasakan air mata yang berjatuhan membasahi lantai hijau zamrud al-uswahku.
Bahkan mungkin membasahi jilbab sempurnanya yang terurai panjang. Tangannya mengelus punggungku lembut, mencoba menenangkanku.

Lama, aku tenggelam dalam hiruk tangisku. Tak ada suara lagi. Selain sesenggukan tangis dan angin yang mampir menyapa.
Kami diam. Tapi mungkin hati berebut ingin bicara. Tapi yang keluar hanyalah isyarat yang menyuratkan suara hati.

Perlahan, kutarik kepalaku. Mencoba menghapus sisa-sisa airmata yg membekas.

Aku sudah lebih tenang. Perlahan, suara keluar dr mulutku. Bibirku kelu, namun cerita itu akhirnya mengalir..
Hingga akhir.

Diluar, angin masih lembut membelai. Di depan kampus cemaraku, sakura mulai berbunga. Merah muda mahkota nya tampak menawan dengan paduan hijau dedaunan. Angin kembali, menerbangkan mahkota-mahkota yang indah, membawa mahkota itu berputar2 diudara, hingga akhirnya terhempas di pelataran bumi.

Bias-bias sakura itu cantik, meski tak banyak orang menyadarinya. Karena ia tinggi, susah diraih. Perlu mendongak untuk melihat keindahannya. Perlu memanjat untuk memetik tangkai kelopaknya.
Pohon nya besar,kuat. Perlu puluhan tahun untuk merajutnya.

Sakura itu merah muda, cantik, manis, lembut, menyejukkan. Layaknya ukhuwah yang takkan layu ditelan pudarnya zaman..



Uhibbuki fillah ukhti shalihah.. :')
Semoga langkah kita tak hanya jadi bias, namun benih-benih yg nantinya akan menumbuhkan sakura-sakura cantik itu..
:)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar