Jumat, 15 Agustus 2014

Yang Tak Terlupa: Tentang Bagaimana Mereka Menyentuh Hati Kami (part 1)

Banyak orang yang bisa menuntut seseorang untuk berbuat ini itu
Tapi tidak ada yang bisa menuntut hati untuk mencintai apa dan siapa

Saya akan memulai tulisan ini dengan pengertian kader. Kader menurut KBBI adalah orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam sebuah organisasi. Sedangkan pengaderan adalah sebuah proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Kaderisasi sering dipandang sebagai hal yang paling penting dalam sebuah organisasi. Kaderisasi memegang peran untuk regenerasi, untuk menumbuhkan tunas-tunas baru demi keberlanjutan sebuah organisasi.
                
Dan ilmu maupun praktek kaderisasi yang bagi saya paling ‘terasa’ adalah masa-masa SMA, ketika saya masih menyandang status sebagai siswi SMAN 1 Yogyakarta. Praktek kaderisasi yang saya mengalaminya; mulai dari kami (saya dan teman-teman) di’kader’ hingga masanya kami yang mengader. Seperti halnya di organisasi lain, kami pun disini melalui banyak step atau fase dalam pengaderan.
                
Namun ada satu hal yang mungkin dalam proses pengaderan, organisasi lain tidak memilikinya, atau memiliki namun belum sebaik apa yang saya rasakan  ketika berada di SMA. Ada satu hal yang bagi saya sangat melekat tentang bagaimana senior-senior terbaik saya dulu mengader. Ada satu rahasia yang mungkin mereka (senior-senior saya) tak menyadarinya, tapi saya merasakannya. Senior-senior terhebat saya itu berhasil mengader hati kami (mungkin bahasa mangader hati kurang tepat, tapi begitulah, susah juga mendeskripsikan rasa yang memang tidak terdeskripsi hanya dengan sebaris kalimat).
                
Bagaimana caranya hingga mereka dapat mengader hati kami? Tentu bukan perkara mudah. Hal itu saya rasakan ketika berada di kelas XI, dimana tongkat estafet berganti, dimana saya dan teman-teman lah yang akhirnya mengambil peran dalam mengader itu.
                
Di SMA 1, kami sering berhubungan, berkomunikasi, ataupun bercanda dengan senior tanpa senioritas. Pada masa awal mengenakan seragam abu-abu, kami bertemu mas dan mbak pendamping, kemudian di “Gravitasi” (meminjam kata adek kelas) bertemu dengan mas dan mbak pansus, dan setelah itupun bertemu dengan mas dan mbak mentor (Di Teladan kami jarang gunakan istilah kakak-kakak). Tidak hanya pertemuan dalam forum, pun ketika dalam organisasi antara Pengurus Inti dan Staff pun terjalin rasa persaudaraan yang ada. Sampai bahkan ketika di sienom saya (ekskul) kami sering berkata “Kita mungkin jadi alumni Teladan, tapi nggak ada alumni Sigma. Sigma 33 ya Sigma 33, bukan alumni Sigma 33”. Begitulah mungkin sedikit gambaran bagaimana rasa persaudaraan mengikat kami.
                
Ya, tugas para senior bukan untuk memarahi junior, mengatur dengan otoriter, ataupun memberi tugas-tugas sulit, melainkan  membimbing dengan hati, mengenalkan kami akan makna sebuah keteladanan dan kebersamaan (ukhuwah).
               
  (Kali ini saya mengambil contoh pansus dan pendamping). Para pansus dan pendamping itu tentu tidak langsung datang tiba-tiba, ‘pedekate’ dengan junior, jadi senior yang manis-manis supaya junior dekat dengannya, tidak. Ada prosedurnya, ada prosesnya. Dan tentu mereka bukan orang sembarangan, mereka adalah orang-orang pilihan. Orang-orang pilihan karena mereka nantinya akan mendampingi generasi-generasi terbaik pilihan pula, yaitu adik-adik kami.
                
Setelah melalui proses pelobian, meyakinkan akan komitmen, mereka harus pula mengikuti berbagai rangkaian training atau pelatihan yang berlangsung hingga kurang lebih tiga bulan lamanya. Rela mengorbankan waktu sepulang sekolah, bahkan sedikit mengambil waktu rapat untuk membekali diri dengan ilmu demi sang adik yang bahkan mereka belum tahu siapa. Ya, semua itu mereka lakukan jauh sebelum adik-adik kami datang, bahkan mungkin calon adik-adik kami masih duduk manis di bangku SMPnya.
               
 Ilmu tentang bagaimana menyentuh hati, bagaimana mengelola forum, ilmu tentang syahadatain, aqidah, akhlak, ukhuwah,  sejarah islam dan dakwah di sekolah, hingga hubungan ikhwan akhwat. Untuk apa semua itu? Agarmereka ketika bertemu dengan adik-adik nanti tidak ‘kosong’. Agar mereka ketika bertemu adik-adik nanti siap menjadi ‘sumur’ yang siap diambil airnya oleh adik-adik. Agar mereka ketika bertemu dengan adik-adik nanti menjadi sosok yang lembut, tangguh, dan berwawasan luas, sehingga adik-adik kami tidak sungkan bila ingin berceloteh tentang apa saja, bahkan mencurahkan isi hatinya. Dan tentu saja, mereka dibekali dengan slogan sekolah kami, 6S (senyum, salam, sapa, sopan, santun, dan sederhana). Sehingga ketika adik-adik menemui seniornya, selalu ada senyum dan raut ramah menyapa, yang menghadirkan kerinduan untuk bertemu kembali dalam forum maupun perjuampaan informal lainnya.
                
Dari kerinduan itulah maka muncul cinta. Cinta yang tersebab oleh kuatnya hati mengikat. Meski tak jarang setelah beberapa pekan berlalu, adik-adik dalam lingkaran mereka berkurang. Ada yang harus izin karena mengikuti latihan rutin sienom ini, sienom itu, les ini, les itu, dan sebagainya. Tapi tak mengapa, bagi mereka kuantitas bukan yang utama meski termasuk dalam perhitungan parameter. Mereka tak pernah memaksa dengan tuntutan, mereka menasehati dengan sepenuh hati, mereka mengingatkan dengan senyuman.
                
Maka setelah beberapa pekan, terlihatlah sesiapa yang sungguh-sungguh. Terlihatlah sesiapa yang begitu kuat ikatan hatinya, yang begitu rindu untuk bertemu dengan bertemu dengan lingkaran-lingkaran yang terlingkup sayap malaikat. Setiap pekan bertemu, bercerita, dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Setiap pekan mereka membimbing, mereka menasehati, mereka membersamai. Tak jarang karena kemurahan hati mas dan mbaknya, adik-adik pun mendapat traktiran, meski hanya semangkuk mie ayam sambil bercengkerama hangat. Begitulah para pendamping, mendampingi, dan memberi arti…
                
Pun sama dengan pansus. Sesi pansus adalah momen yang paling dinantikan bagi para peserta “Gravitasi”. Ketika sedang berlelah-lelah dengan sesi pleton, maka pansus hadir, mendengarkan curhatan adik-adik, memberi solusi, dan mengingatkan akan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Bahkan ketika ada adik yang tidak melakukan tugasnya, ada adik yang terlambat, maka mas mbak pansus inilah yang menanggungnya. Setiap menit keterlambatan si adik maka satu ‘seri’ pun bertambah. Saya pikir “Gravitasi” ini adalah program dan ‘skenario’ nyata terbaik sepanjang saya SMA.
                
Maka dari kedekatan yang berbuah rindu, dari rindu yang menyebabkan cinta, ukhuwah itu bukan hanya sebagai teori, tapi lebih pada praktek yang sedang dijalani. Begitulah mereka, tak cukup ‘mengajak’ lewat lisan. Tapi mereka juga ‘mengajak’ dengan halus, dengan keteladanan yang mereka ajarkan.

Maka meski telah tiga tahun berlalu semenjak saya pertama kali mengenal Teladan, perjumpaan dengan senior-senior terhebat saya itu tidak pernah terlupakan. Maka meski telah tiga tahun berlalu, tak jarang kami berkirim sms sekedar mengatakan betapa rindunya kami.

Barisan kalimat ini ditulis ditengah kesibukan saya menyeka bulir bening yang jatuh dari pelupuk mata. Tulisan ini sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, yang kini mungkin akan dihadapkan dengan fase kaderisasi di kampus. Tulisan ini menjadi pengingat bagi saya, bahwa banyak sekali hal-hal yang saya dapat di Teladan, dan itu tak pernah tertelan waktu. Tulisan ini menjadi pengingat bagi saya, bahwa meski sudah menjadi alumni Teladan, keteladanan itu harus tetap ada, harus tetap kita bawa di bumi manapun kita berpijak.


Solo, 15 Agustus 2014.
               
               



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar