Rabu, 30 April 2014

taukah kau tuan, bagaimana peribahasa "bagai pungguk merindukan bulan" itu kini menamparku?
seolah menyadarkanku dari sebuah lamunan panjang.
membangunkanku dari cerita mimpi yang terlalu indah.

senyatanya, aku memang sedikit bermimpi memiliki kisah seindah negeri dongeng itu akan terjadi padaku. 
dimana seorang upik abu pada akhirnya bersanding dengan pangeran rupawan. 
ah, aku tau itu hanya sebuah fiksi yang dibuat manusia. betapapun indah alur ceritanya. 

tapi kau tahu, aku selalu percaya dengan skenario-Nya. 
aku tidak akan memungkiri apapun yang telah Ia takdirkan untukku.
karena semua tahu, akhir dari-Nya selalu lebih indah dari cerita negeri dongeng manapun.

dan untuk saat ini, biarkan aku kembali dalam lamunanku sejenak,
sebentar saja,
membayangkan bahwa di dalam skenario Tuhan yang indah itu namamu tertulis disana...
dan biarlah aku tetap menjadi pungguk yang merindukan bulan, 
menjadi pungguk yang merindukanmu, tuan...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar