Kamis, 01 November 2012

Persinggahan Terakhir #1



Sepucuk daun cemara meliuk-liuk mengikuti rayuan angin. Deras hujan masih mengguyur dari pagi hingga sore kini. Aku melihat bulir-bulir hujan jatuh mengenai jendela kaca di sampingku, perlahan tetesan itu turun, menyapu lembut permukaan kaca, hingga berujung pada kusen jendela. Tanpa sadar jari telunjukku menempel pada kaca, mengikuti tetes-tetes itu menari, membentuk formasi yang aku sendiri tidak tahu apa bentuknya.
Aku masih diam mengamati hujan dari balik kaca jendela. Secangkir white coffee yang aku pesan sepertinya sudah mulai dingin.  Ibu jari dan telunjuk tangan kananku kini sudah melingkari gagang cangkir, sedang jari telunjuk kiriku menari berputar di bibir cangkir putih itu. 

“Heh, ngelamun aja.”
Aku tersentak, kaget. Kemudian menarik tanganku dan akhirnya berhadapan dengan perempuan manis di depanku.
“Eh, Mbak Shofi ngagetin aja nih. Apa kabar Mbak?” tanyaku sembari berjabat tangan dengan perempuan seperempat abad itu.
“Baik. Kamu? Maaf ya telat, kamu udah nunggu lama ya tadi?”
“Alhamdulillah baik Mbak. Ah, nggak juga kok Mbak,” jawabku sedikit berbohong. Sejujurnya, sudah satu setengah jam lebih aku menunggu dari jam yang telah kami sepakati kemarin.
“Tadi Mbak masih ada kerjaan Dei, jadi baru bisa kesini sekarang. Ini Mbak juga nggak bisa lama ya, soalnya habis ini masih ada acara lain. Gimana?” kata Mbak Shofi merasa tidak enak.
“Nggak apa kok Mbak. Dei cuma mau tanya aja, kira-kira gimana ya Mbak, sama proposal permohonan dana dari Dei kemarin?”
Mbak Shofi terlihat menghela napas sejenak, kemudian menggenggam tanganku. “Mbak minta maaf Dei, Mbak sudah mengusahakan semampu Mbak untuk bilang pada atasan Mbak. Tapi sepertinya pengeluaran kantor juga sedang banyak, jadi belum bisa menerima proposal kamu.”
Aku tersenyum getir. “Jadi begitu ya Mbak, yaudah Mbak, nggak apa kok. InsyaAllah masih ada jalan lain.”
Mbak Shofi sepertinya masih terlihat tidak enak padaku. Kemudian mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya, dan menjulurkannya padaku.
“Ini Dei, coba kamu masukin juga proposalnya ke alamat yang ditulis di kartu nama ini. Kebetulan orang yang menjalankan perusahaan itu salah satu temen Mbak, siapa tau dia mau bantu kamu.”
Aku menerimanya canggung, melihat ke Mbak Shofi sebentar, kemudian tersenyum dan berkata, “terima kasih banyak Mbak.”
Tak lama setelah aku menerima kartu nama itu, Mbak Shofi segera pamit. Ia menawariku untuk pulang bersamanya, tapi aku menolaknya halus. Setelah ini masih ada tempat yang harus aku kunjungi.


(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar