Rabu, 07 November 2012

Azalea

Assalamu'alaikum..

Ciyeee nama baru ciyeee :p
Hehe, iya nih, nisa lagi pengen ganti nama blog ini. setelah muter-muter akhirnya nemu nama, "azalea".
Udah pada nggak asing ya pasti sama nama azalea?
Yap, azalea itu nama pohon bunga yang tumbuh di kawasan Asia Timur sama Amerika (lupa amerika selatan ato utara :D pokoknya gitu lah)

Buat nisa yang nggak pernah secara langsung lihat bunga itu, azalea jadi semacam pemantik buat suatu saat nanti, nisa harus bisa menginjakkan kaki dimana akar azalea itu menancap, hehe :D

Ya intinya begitulah seputar ganti nama ini.

Eniwei sekarang nisa lagi agak sibuk jadi belum sempet update lagi. Oiya, sebenernya sih biar lebih bermanfaat, blog ini mau dibuatkan jadwal.
Yang sementara ada di pikiran nisa sih ini:
1. Pekan pertama nulis artikel (bisa artikel islam atau apa aja)
2. Pekan kedua nulis opini (ini biar lebih meningkatkan skill dalam memberi tanggapan, hehe :D)
3. Pekan ketiga ajang berkarya. Posting cerpen atau puisi gitu. (meningkatkan produktivitas euy!)
4. Dan yang pekan terakhir ini untuk cuap-cuap penulis blog. Hehehe :D

Itu baru rencana sih. Tapi suatu saat nanti isa pengen banget bisa terealisasikan. mungkin karena sekarang udah kelas XII jadi lebih meluangkan banyak waktu buat belajar. Hwehehe (alibi :D)

Oke, sudah dulu ya, mauada aktivitas lain setelah ini. Sayonara my new blogie ;) *alay dikit ah :p


ini dia bunga azalea 

cantik ya? mirip sakura

suatu saat, harus bisa memotret ini dengan tangan sendiri :)



Kamis, 01 November 2012

Persinggahan Terakhir #end


Aku sampai. Di sebuah ramai perempatan kota. Tepat di sudut perempatan itu terpampang baliho-baliho besar. Mengiklankan produk-produk elektronik terbaru, restoran yang baru dibuka, hingga acara panggung artis papan atas di klub-klub malam.
Kini aku berdiri tepat di bawah tiang baliho. Di seberangku ada jalan dengan banyaknya mobil-mobil mewah berlalu-lalang. Kemudian aku melihat pemandangan di depanku, pemandangan di balik panggung baliho ini. Jalan setapak yang becek terkena hujan menuju ke sebuah perkampungan kecil di bawah jalan raya itu. Seperti biasa, aku menuruni jalan kecil itu perlahan. Tiba-tiba ada seorang anak kecil mengambil payung dari tanganku.
“Sini Kak Dei, biar Asep bantu bawa payungnya,” kata bocah keriting dengan badan kurus bernama Asep itu.
“Terima kasih Asep,” balasku sambil tersenyum lembut.
Kami sampai di perkampungan sangat sederhana ini. Jangan bayangkan rumah dengan tembok dan penerangannya yang memadai. Kamar mandi saja, mereka harus menumpang di terminal maupun SPBU-SPBU terdekat. Rumahnya beratap daun kering yang disusun bertumpuk. Tiangnya dari sisa-sisa kayu yang tidak terpakai. Sedang alasnya dari kardus-kardus bekas. Orang lain tidak akan bisa membayangkan, bagaimana jadinya rumah kardus ini bila hujan deras mengguyur dari pagi hingga sore.
Tetapi mereka bisa.
“Kak Dei, lihat deh, sekarang kita bikin rumah pohon, jadi kalau hujan begini, kita bisa sembunyi di atas pohon,” kini seorang gadis kecil bersuara dari atas pohon.
“Hati-hati Ta, kalau anginnya kencang bahaya lho,” seruku dari bawah.
“Tenang aja Kak Dei, ini teknologi baru, rumah pohon anti badai tornado, hehehe,” jawab Tata sambil terkekeh, teman-temannya yang lain tertawa.
“Tata sama temen-temen di atas turun dulu yuk, udah mau malem lho,” kataku membujuk.
“Ah, nggak mau Kak Dei, dibawah gelap, kalau di atas begini bisa lihat lampu juga lho,” ujar Tata yang masih ngeyel tidak mau turun.
“Yaudah deh kalo gitu nanti jatah makan malam Tata untuk Juno, Asep, Anto, dan yang lainnya ya,” aku sedikit menggunakan taktik jituku. Mengiming-imingi mereka dengan jatah makan malam yang jarang mereka dapatkan denagn layak.
“Tata mau makan Kak Dei, mauuu. Tata turun deh kalo gitu. Temen-temen ayo turun, kita mau di traktir Kak Dei lho,” seru Tata bersemangat. Aku tersenyum simpul, geleng-geleng kepala melihat anak-anak kecil yang ramai turun dari rumah pohonnya.
 “Karena masih gerimis, kita mampir ke musholla dulu yuk,” kataku sambil mulai melangkah bersama anak-anak kecil ini.
Baru beberapa langkah tiba-tiba seorang pria paruh baya keluar. “Heh, mau kemana kamu Asep? Kerja lagi nanti kalau hujannya sudah reda, jangan ngeloyor terus!”
“Asep pergi sama Kak Dei, Pak,” jawab Asep takut-takut, bersembunyi di balik jaketku. Aku berinisiatif menemui bapak Asep.
“Assalamu’alaikum Pak, ini Dei. Maaf Pak, saya cuma mau ngajak adek-adek ke musholla sebentar, kasian mereka kehujanan disini. Nanti saya antar mereka kembali kok Pak,” kataku setenang mungkin.
Tiba-tiba muncul seorang ibu-ibu sedang menggendong bayi. Ibunya Siti. Kemudian berkata, “Oalaah, Mbak Dei tho iki. Wis, rapopo Mbak Dei, diajak wae si Siti sama temen-temennya, aku juga lagi repot iki, daripada mereka malah ribut terus. Iki lho Pakdhe sing jenenge Mbak Dei, sing biasane ngasih nasi bungkus buat kita itu,” kata Ibunya Siti kepadaku kemudian pada Bapak Asep.
Aku hanya tersenyum sebentar, kemudian menunggu bapak Asep mengangguk. Akhirnya bapak Asep mengizinkan kami untuk pergi.
Kami melanjutkan perjalanan kembali. Tujuan kali ini adalah musholla kecil di seberang jalan raya. Belum lama setiba kami di musholla, adzan Maghrib terdengar. Aku mengajak anak-anak untuk sholat.
“Ah, Siti udah lupa bacaan salat, Kak Dei. Ibu nggak pernah salat sih,” kata Siti.
“Iya Kak Dei, Tata sama yang lain juga udah lupa,” tutur Tata. Disambut tanda setuju dari teman-temannya. Aku tersenyum mengerti, kemudian berkata,
“Sekarang, dicoba lagi ya. Ambil air wudhu, trus kita sholat bareng-bareng di dalem. Kalau lupa bacaannya, dengerin imamnya dulu, insyaAllah besok Kak Dei ingetin lagi deh bacaannya. Oke?”
“Asep nunggu diluar aja deh Kak Dei, malu, bajunya asep kan kotor, nggak seperti orang-orang itu,” tukas Asep.
“Asep, Allah nggak liat bajunya Asep. Yang Allah lihat itu, gimana Asep sholatnya nanti. Yang Allah denger itu bukan pujian baju bagusnya Asep, tapi doanya Asep. Nah, sekalian aja nanti Asep minta sama Allah untuk dikasih baju baru. Ya?”
Asep terdiam sejenak. Teman-temannya juga. Kemudian mengangguk kecil. Teman-temannya yang lain segera megikuti. Mereka akhirnya berwudhu, terlepas dari wudhu yang “ala kadar”nya saja.
Kini tinggal rintik gerimis kecil. Langit pun mulai gelap. Lampu-lampu penerangan jalanan sudah menyala sejak tadi. Mentari berganti bohlam-bohlam listrik. Trotoar jalanan mulai ramai oleh pedagang kaki lima. Dan kini kami singgah di sebuah warung makan setelah sholat Maghrib berjamaah. Asep dan teman-temannya terlihat ceria sekali melihat makanan terhampar di depannya. Segera ia memasukkan sesuap nasi ke mulutnya. Aku menghentikan gerakan sendoknya sejenak.
“Hayoo, udah pada baca doa belum? Baca doa dulu yuk, biar Allah besok masih memberi kita makanan lagi. Ada yang mau mimpin baca doa?” aku melirik pada anak-anak lugu di depanku satu-persatu.
“Hmmm..pada lupa ya doanya. Yaudah Kak Dei aja dulu deh yang mimpin, lain kali gantian adek-adek ya..,” kataku sambil menatap mereka. “Ikutin doa Kak Dei ya Adek-adek. Allahumma baariklanaa fiima rozaqtanaa waqinaa adzaabannaar…aamiin.”
Aku kehilangan selera makan. Entah mengapa melihat wajah-wajah lugu mereka yang sedang makan sudah membuatku kenyang. Ah, andai saja… Tiba-tiba aku teringat dengan proposal yang masih tersisa di ranselku. Aku tau aku tidak boleh menyerah. Seperti mereka yang tidak menyerah dengan keadaan mereka pula.
“Akhirnya kita bisa makan ya, gara-gara hujan seharian kita batal ngamen dan nggak dapet duit sama sekali,” celetuk Agus sambil sedikit mendengus kesal.
“Iya, untung Kak Dei dateng, trus ngajakin kita makan, hehe,” Siti melirik ke arahku. Aku tersenyum saja mendengar celoteh-celoteh mereka.
Tiba-tiba Asep yang duduk di sampingku menarik jilbabku lembut. Aku menoleh ke arahnya, dan dia berbisik di telingaku, “Kak Dei, boleh minta bungkusin nasi untuk bapak di rumah?”
Aku tersenyum, “Iya, boleh kok. Sekalian buat yang lain ya, coba Asep hitung yang belum makan siapa, nanti kita bungkusin. Oke?”
Asep terlihat cerah wajahnya, “Makasih Kak.”
Setelah aku membayar semua bungkus nasi dengan hasil tabungan dan sumbangan dari mama, saatnya kami pulang. Beramai-ramai kami menyusuri trotoar yang sesak oleh pedagang. Kemudian menyeberang jalan raya untuk sampai di “rumah” mereka.
“Pak, ada makan Pak, dari Kak Dei,” kata Asep kepada bapaknya. Bapak Asep melihat bungkus nasi itu sebentar, kemudian mengambilnya, lalu masuk lagi ke dalam kemah kardus itu. Asep menyusul bapaknya ke dalam. Demikian juga dengan anak-anak yang lain, segera mencari orang tuanya masing-masing. Mereka yang tidak punya orang tua berkumpul bersama, bermain, dan bercanda sekedar untuk melupakan kesedihan mereka.
Aku lekas pamit pada anak-anak itu dan juga orangtuanya. Saat hendak pergi, Asep dan Agus mengejarku.
“Bapak bilang makasih Kak Dei. Kata Bapak, kalo besok kesini lagi, Kak Dei bawa presiden ya, biar kita dibuatkan rumah yang nggak usah ganti-ganti kardus tiap hari,” Asep berujar polos. Aku tertegun. Ya Allah..
“Kak Dei, kita anterin pulang ya. Kata bapak sama ibu kita harus jagain Kak Dei sampai rumah, soalnya ini udah malem. Bapak sama ibu udah ngasih izin kok, dan kita pasti bisa jaga diri. Kan kalo Kak Dei nggak bisa berantem, hehe,” Agus terkekeh.
Aku memandangi mereka, merangkul pundak mereka yang kurus, mengusap lembut rambut keduanya. Gerimis mereda, berganti air mataku yang kini menggenang di pelupuk mata. Aku pura-pura mendongak ke atas, agar air mataku tak terlihat oleh mereka. Wahai gelapnya langit, saksikanlah..
Sesampainya di rumah, mama menyambutku di ruang tamu. Mama tersenyum, segera aku memeluknya.
“Capek Dei?” tanya Mama sembari mengusap kepalaku yang masih terbalut jilbab.
“Belum Ma, tidak akan… Sampai Dei bisa menyaksikan mereka mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.”
Aku terkantuk hingga akhirnya terlelap di pangkuan Mama. Mama memang selalu menjadi tempat persinggahan pertama dan terakhir. Dan aku, ingin menjadi tempat persinggahan pula untuk anak-anak kecil itu, calon generasi penerus yang akan mengubah negri ini.
***
            Masih tersisa satu lagi proposal di ranselku. Berharap siapapun dapat mengabulkan permohonan ini. Tidak perlu mahal, tidak perlu mewah. Sederhana saja, sesederhana permintaan tulus dari mereka, akan sebuah jaminan kehidupan yang lebih layak dan memadai.
“Proposal Permohonan Dana. Rumah Singgah Anak Jalanan”

Persinggahan Terakhir #1



Sepucuk daun cemara meliuk-liuk mengikuti rayuan angin. Deras hujan masih mengguyur dari pagi hingga sore kini. Aku melihat bulir-bulir hujan jatuh mengenai jendela kaca di sampingku, perlahan tetesan itu turun, menyapu lembut permukaan kaca, hingga berujung pada kusen jendela. Tanpa sadar jari telunjukku menempel pada kaca, mengikuti tetes-tetes itu menari, membentuk formasi yang aku sendiri tidak tahu apa bentuknya.
Aku masih diam mengamati hujan dari balik kaca jendela. Secangkir white coffee yang aku pesan sepertinya sudah mulai dingin.  Ibu jari dan telunjuk tangan kananku kini sudah melingkari gagang cangkir, sedang jari telunjuk kiriku menari berputar di bibir cangkir putih itu. 

“Heh, ngelamun aja.”
Aku tersentak, kaget. Kemudian menarik tanganku dan akhirnya berhadapan dengan perempuan manis di depanku.
“Eh, Mbak Shofi ngagetin aja nih. Apa kabar Mbak?” tanyaku sembari berjabat tangan dengan perempuan seperempat abad itu.
“Baik. Kamu? Maaf ya telat, kamu udah nunggu lama ya tadi?”
“Alhamdulillah baik Mbak. Ah, nggak juga kok Mbak,” jawabku sedikit berbohong. Sejujurnya, sudah satu setengah jam lebih aku menunggu dari jam yang telah kami sepakati kemarin.
“Tadi Mbak masih ada kerjaan Dei, jadi baru bisa kesini sekarang. Ini Mbak juga nggak bisa lama ya, soalnya habis ini masih ada acara lain. Gimana?” kata Mbak Shofi merasa tidak enak.
“Nggak apa kok Mbak. Dei cuma mau tanya aja, kira-kira gimana ya Mbak, sama proposal permohonan dana dari Dei kemarin?”
Mbak Shofi terlihat menghela napas sejenak, kemudian menggenggam tanganku. “Mbak minta maaf Dei, Mbak sudah mengusahakan semampu Mbak untuk bilang pada atasan Mbak. Tapi sepertinya pengeluaran kantor juga sedang banyak, jadi belum bisa menerima proposal kamu.”
Aku tersenyum getir. “Jadi begitu ya Mbak, yaudah Mbak, nggak apa kok. InsyaAllah masih ada jalan lain.”
Mbak Shofi sepertinya masih terlihat tidak enak padaku. Kemudian mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya, dan menjulurkannya padaku.
“Ini Dei, coba kamu masukin juga proposalnya ke alamat yang ditulis di kartu nama ini. Kebetulan orang yang menjalankan perusahaan itu salah satu temen Mbak, siapa tau dia mau bantu kamu.”
Aku menerimanya canggung, melihat ke Mbak Shofi sebentar, kemudian tersenyum dan berkata, “terima kasih banyak Mbak.”
Tak lama setelah aku menerima kartu nama itu, Mbak Shofi segera pamit. Ia menawariku untuk pulang bersamanya, tapi aku menolaknya halus. Setelah ini masih ada tempat yang harus aku kunjungi.


(bersambung)

Senin, 10 September 2012

ini tentang rindu #1

1 September 2012

Baru seminggu di kos, dan rasanya sudah rindu rumah. Alhamdulillah, rindu itu terjawab dengan telepon dari mama pada Jum’at malam. Mama bilang, besok Ahad mau ada acara di rumah. Dan dengan segenap kerelaan hati aku menyanggupi untuk pulang walaupun hanya sebentar. Sabtu malam sampai, ahad pagi balik lagi ke Jogja. Karna siangnya sudah ada acara lagi. Fyuuuh~ *ngelap dahi

Beruntung sekali dua jam pelajaran terakhir, yakni PKn kosong. Akhirnya bisa pulang ke kos dan menyiapkan perbekalan, yang aslinya cuma satu tas ransel berisi mushaf, novel, dompet, handphone, dan sebotol air minum.

Ba’da ashar berangkat ke Stasiun Tugu dengan “Beat” merah kesayanganku. Menitipkan motor, antri tiket, dan menunggu. Jarum pendek di tangan kiriku menunjukkan angka tiga, sedang jarum panjangnya ada di angka empat. 15.20. Sedang keretaku berangkat jam 16.15. Kurang  lebih satu jam aku menunggu.

Rupanya si Prameks Kuning itu ingin menguji kesabaranku. Pukul 16.15 tepat, ia tak datang juga. Kepalaku dan penumpang lainnya melongok-longok ke ujung rel kereta api, menantikan gerbong kuning terlihat. Baru sekitar pukul 16.30 si Kuning datang. Aku pun masuk ke gerbong yang berada pas di depanku. Penuh, sesak sekali. Berdiri saja susah, apalagi duduk. Beginilah nasib pelanggan setia prameks, bertaun-taun naik prameks, kesempatan dapet tempat duduk dan duduk dengan nyaman di kereta bisa dihitung jari. Fyuuuh~

Tidak hanya ini, entah karena kendala apa, si Prameks ini berhenti lama sekali di Stasiun Tugu dan Lempuyangan. Kurang lebih jam 17.00 barulah kereta meninggalkan wilayah Jogja, menuju Stasiun Maguwo, Klaten, baru kemudian Purwosari, tujuanku.

Sampai di Maguwo kira2 jam 17.15, papa sms kalau sudah di stasiun Purwosari, menjemputku. Jadi merasa bersalah sama papa, membuat papa menunggu lama sekali disana. Dan benar saja, kereta yang kutumpangi baru sampai Purwosari kira-kira pukul 18.00. segera aku keluar tergesa menghampiri papa. Alhamdulillah, senang rasanya bertemu papa lagi. Segera aku naik dalam boncengannya. Tidak seperti biasa yang kalau dibonceng papa selalu duduk menyamping, kali ini aku melangkahkan kakiku melewati jok motor. Capek juga rasanya berdiri di kereta yang penuh sesak hampir satu jam.

Kecepatan mengendarai motor papa yang diatas rata-rata membuatku melingkarkan tanganku pada pinggang kurus papa. Aku mendekap pinggang papa erat, antara takut dan rindu. Dengan badan yang sedikit lelah, aku menempelkan kepalaku pada pundak papa. Pundak laki-laki nomor satu-ku di dunia.

Lain waktu akan kuceritakan tentang papa, sosok paling dekat yang sangat menginspirasiku. Sosok laki-laki yang paling aku cintai dimanapun dan kapanpun.
Tapi kali ini aku harus membantu mama dulu di dapur, menyiapkan makanan untuk acara besok pagi.

Selamat malam, semoga besok Allah masih mengizinkan kita bertemu lagi. Amiin J

Senin, 27 Agustus 2012

seperti biasa


Seperti biasa aku berlari didalam gerbong
Mencari-cari tempat duduk yang tersisa
Tapi seperti biasa tempat duduk itu selalu penuh
Ah, tak apa, aku bisa bersandar pada tiang di samping pintu,
seperti biasa

Seperti biasa pula ketika kereta mulai berjalan
Pintu yang sebagiannya terbuat dari kaca itu,
pemandangan diluarnya begitu menakjubkan

Melihat sawah-sawah yang seolah berjalan
Pohon-pohon yang seakan melambai
Dan capung-capung yang seperti menari

Mungkin bagimu itu biasa, kawan
Tapi bagiku seolah kembali pada hamparan masa kecilku
Ketika masih belepotan lumpur di sawah yang baru ditanam
Ketika mengejar capung, kupu, hingga layang-layang
Pun ketika memanjat pohon buah jambu yang masak

Mungkin bagimu itu sederhana, kawan
Tapi bagiku itulah harta karun
Karena bagaimanapun aku berusaha mengingatnya,
semuanya itu tidak akan pernah kembali lagi

Seberapa inginnya aku kembali pada masa itu
Tidaklah mugkin
Seperti biasa, hanya menyimpannya pada kotak kayu tuaku

Seperti biasa, ketika sedang asyik bermain dengan masa lampau
Peluit kereta api mengganggu
Menyuruhku untuk segera keluar
Meninggalkan satu lagi cerita, yang akan selalu sama




Jumat, 10 Agustus 2012

sampai aku lelah


apa yang salah dengan menunggu
apabila menungguku itu untukmu
apa yang salah dengan mengagumi
apabila yang kukagumi itu dirimu

meski aku dari golongan Sudra yang lemah
meski aku dari bangsa Veddoid yang terkucil

maafkan aku
tapi aku sudah telanjur menunggumu begitu lama
dan mengagumimu begitu dalam
maka kuminta izinmu
untuk menunggumu lagi selama mungkin
dan mengagumi sedalam mungkin
sampai aku lelah..


dari sini saja



kau tau rasanya mengagumi dalam diam, tuan?
berusaha menyimpannya sedalam-dalam hati
tanpa memberitahukannya pada sang otak
karena.. jika saja sang otak tahu,
barang sedetikpun ia tak akan pernah berhenti memikirkanmu

bahkan aku hanya sanggup sekedar mengagumimu, tuan..
mengagumimu tapi tidak untuk mencintaimu
sedalam apapun kekagumanku terhadapmu
itu tidak akan berbuah mesra, tuan
karena…kau berada jauh dalam jangkauanku
dan aku, tidak cukup sanggup untuk melewati dinding pemisah ini
maka biarkan aku mengagumimu dari sini saja, tuan..
dari sini saja, itu sudah cukup…