Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2013

bukan sandiwara langit #end


“Anak sholeh, boleh Ibu pinjam robotnya sebentar?” tanya sang Ibunda Guru.

Bagus buru-buru menggelengkan kepalanya, kemudian menyembunyikan robotnya di balik punggung. Kemudian Sang Guru juga berbalik. Kini berhadapan dengan robot yang di genggam erat oleh Bagus.

“Kalau begitu, Om Robot, Ibu Guru boleh pinjam Den Bagus nya sekarang? Habisnya Den Bagus nggak mau ngomong tuh,” Ibu Guru mencoba bercanda.

Berhasil. Bagus tersenyum, sedikit. Kemudian melirik perlahan-lahan ke arah Ibu Guru.

“Den Bagus yang sholeh, robotnya kita ajarin ngaji yuk? Biar robotnya juga jadi robot yang sholeh? Gimana? Den Bagus setuju?” rayu Ibu Guru.

Bagus tidak berkata apa-apa, tapi mengangguk perlahan.Ibu Guru tersenyum. Sang Suami yang melihat dari jauh ikut tersenyum.

“Nah, ayok kita ajarin robotnya Den Bagus. Coba Den Bagus buka iqro’nya ya, biar Ibu Guru bantu,” kata Ibu Guru dengan sabar.

Bagus membuka buku iqro’nya. Hingga terbentanglah barisan huruf-huruf arab di hadapannya. Bagus menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menatap Ibu Guru, memohon bantuan.

“Nah, yang ini namanya alif, Den Bagus. Hurufnya kayak tongkat, panjang. Dibaca ‘a’. kalo yang mirip mangkuk besar dan ada telur satu di bawahnya itu huruf ba’, bacanya’ba’. Nah, kalo yang di sebelahnya, yang sama-sama mirip mangkuk besar, tapi ada dua telur di atasnya, namanya huruf ta’, di baca ‘ta’,” Ibu Guru mencoba menjelaskan dengan penuh perhatian.

Bagus mencoba mencerna. Raut wajahnya menampakkan sebuah kebingungan. Sepertinya apa yang Ibu Guru jelaskan belum ia pahami betul.

“Den Bagus mau coba sama-sama baca sama Ibu?”

Bagus menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. Ibu Guru tersenyum senang.
“Yuk kita baca sama-sama. A-BA-TA.” Ibu Guru membantu mengeja. Tapi Bagus tetap diam, hanya memperhatikan apa yang Ibu Guru baca, tidak menirukannya.

“Loh? Kok Bagus diam saja?” seorang gadis cilik berjilbab kuning mengomentari sebelum Ibu Guru membuka mulut.

“Temen-temen, sini deh. Ayo kita bantuin Bagus mengeja,” gadis jilbab kuning memanggil teman-temannya. Kemudian berkumpul sepuluh anak kecil yang ramai. Mengelilingi Bagus yang masih terlihat bingung.

“Hanya baca saja Bagus, ikuti Ibu Guru,” ujar anak laki-laki bertopi biru.

“Ayo teman-teman, kita baca bareng-bareng saja yuk, biar Bagus juga mau baca. Bagus janji ya, baca bareng-bareng kita?” jilbab kuning mengomando. Bagus hanya mengangguk ragu.

A, BA, TA,” serentak campuran suara sebelas anak kecil mengudara. Menembus batas-batas langit, hingga mungkin menggetarkan awan-awan yang di lewatinya.

“Eh, tadi Bagus baca juga. Ayo coba Bagus baca sendiri,” giliran topi biru kembali angkat suara.
Bagus malu-malu, kemudian memandangi buku iqro’ di depannya. Ia memejamkan matanya, sebentar, kemudian membuka matanya lagi. Tersenyum.

A, BA, TA.”
Lantang. Tapi kali ini bukan suara sebelas anak kecil. Kali ini sebuah suara yang di miliki seorang anak berumur tujuh tahun. Yang sejak dua tahun lalu hidup sebatang kara di panti asuhan. Yang sejak dua tahun lalu hanya berteman sebuah robot peninggaalan ayah tercinta. Dan yang sejak dua tahun lalu berhenti berbicara. Kali ini adalah suara pertamanya setelah dua tahun bibirnya terkunci rapat tanpa sebuah kata. Setelah dua tahun peristiwa menyedihkan menimpa ayah ibunya. Dan suara pertama yang ia ucapkan adalah “A, BA, TA”.

Sepasang suami istri yang kini berdiri berdampingan menampakkan wajah haru gembira. Melihat anak-anak kecil yang sedang asyik menghabiskan bekalnya. Saling berbagi, berebut, mengejek, dan ulah kekanakan lainnya.
Hingga tiba ketika matahari akan tenggelam menunggu hitungan menit. Anak-anak kembali bertemu dengan orangtua tercinta mereka. Kelas mengaji sore hari mereka telah habis. Saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Saatnya untuk pulang ke dalam pelukan hangat ayah dan bunda. Sedang kedua guru itu harus merelakan mereka kembali kepada orangtuanya. Waktu yang mereka punya untuk ‘memiliki’ anak-anak itu hanya sembilan puluh menit dalam sehari.

“Ayah, andaikan saja Allah memberi kita kesempatan untuk memiliki cahaya-cahaya seperti mereka,” ucap Sang Istri tiba-tiba sembari menghapus genangan yang ada di pelupuk matanya.

“Sudahlah Bunda, jangan berandai-andai. Allah telah menggariskan yang terbaik untuk kita. Bersabarlah, jalan Allah selalu ada,” Sang Suami mencoba menenangkan, walaupun sebenarnya ia merasakan hal yang sama.
Kemudian dengan tiba-tiba Sang Suami menarik tangan istrinya. Mengajaknya menghampiri seseorang yang berjalan sendirian dengan robot tergenggam di tangannya.

“Bagus, tunggu,” ujar sang Bapak Guru. Bagus menoleh sejenak, menghentikan langkahnya.

“Ayo kita pulang sama-sama,” ucap Sang Guru. Bagus terlihat kaget.

“Bagus mau nggak, kalo Ibu Guru jadi bundanya Bagus?”

Sang Istri terperanjat, kaget. Kemudian menggenggam erat tangan suaminya. Memahami apa yang suaminya maksudkan. Kini tinggal menunggu apa jawaban Bagus.

Bagus terlihat berpikir sejenak. Di antara sayup-sayup adzan maghrib yang terdengar, ia mengangguk dan tersenyum senang. Sepasang suami-istri itu tak terhitung bahagia rasanya. Sang Istri mengucap hamdalah berkali-kali hingga menitikkan air matanya.

“Baiklah. Ayo sekarang kita sholat dulu. Setelah itu kita ke panti untuk mengambil barang-barang Bagus dan berpamitan dengan orang-orang di panti. Yuk,” ajak Sang Ayah.

Sang Ayah menggamit tangan kanan Bagus, sedang tangan kirinya di genggam oleh ibu guru yang kini menjadi bundanya itu.

Dalam langkah beriringan keluarga kecil yang baru saja terbentuk itu saling mengucap syukur dalam hati. Bersyukur atas segala keterbatasan yang mereka miliki. Bersyukur atas hadirnya sosok-sosok yang mampu melengkapi keterbatasan itu. Bersyukur atas kebahagiaan yang pasti ada walaupun kadang tersembunyi. Bersyukur, bersyukur atas segala yang mereka miliki dan tidak mereka miliki.

Matahari kini sempurna tenggelam. Berganti bulan yang malam ini masih separuh. Gemintang mengerlip, formasi-formasinya yang menakjubkan membuat elok paras langit malam. Sang hujan tidak jadi turun malam ini. Mungkin ia memberi waktu kepada mereka yang sedang berbahagia untuk bersyukur mengenang nikmat Tuhannya. 

Kamis, 01 November 2012

Persinggahan Terakhir #end


Aku sampai. Di sebuah ramai perempatan kota. Tepat di sudut perempatan itu terpampang baliho-baliho besar. Mengiklankan produk-produk elektronik terbaru, restoran yang baru dibuka, hingga acara panggung artis papan atas di klub-klub malam.
Kini aku berdiri tepat di bawah tiang baliho. Di seberangku ada jalan dengan banyaknya mobil-mobil mewah berlalu-lalang. Kemudian aku melihat pemandangan di depanku, pemandangan di balik panggung baliho ini. Jalan setapak yang becek terkena hujan menuju ke sebuah perkampungan kecil di bawah jalan raya itu. Seperti biasa, aku menuruni jalan kecil itu perlahan. Tiba-tiba ada seorang anak kecil mengambil payung dari tanganku.
“Sini Kak Dei, biar Asep bantu bawa payungnya,” kata bocah keriting dengan badan kurus bernama Asep itu.
“Terima kasih Asep,” balasku sambil tersenyum lembut.
Kami sampai di perkampungan sangat sederhana ini. Jangan bayangkan rumah dengan tembok dan penerangannya yang memadai. Kamar mandi saja, mereka harus menumpang di terminal maupun SPBU-SPBU terdekat. Rumahnya beratap daun kering yang disusun bertumpuk. Tiangnya dari sisa-sisa kayu yang tidak terpakai. Sedang alasnya dari kardus-kardus bekas. Orang lain tidak akan bisa membayangkan, bagaimana jadinya rumah kardus ini bila hujan deras mengguyur dari pagi hingga sore.
Tetapi mereka bisa.
“Kak Dei, lihat deh, sekarang kita bikin rumah pohon, jadi kalau hujan begini, kita bisa sembunyi di atas pohon,” kini seorang gadis kecil bersuara dari atas pohon.
“Hati-hati Ta, kalau anginnya kencang bahaya lho,” seruku dari bawah.
“Tenang aja Kak Dei, ini teknologi baru, rumah pohon anti badai tornado, hehehe,” jawab Tata sambil terkekeh, teman-temannya yang lain tertawa.
“Tata sama temen-temen di atas turun dulu yuk, udah mau malem lho,” kataku membujuk.
“Ah, nggak mau Kak Dei, dibawah gelap, kalau di atas begini bisa lihat lampu juga lho,” ujar Tata yang masih ngeyel tidak mau turun.
“Yaudah deh kalo gitu nanti jatah makan malam Tata untuk Juno, Asep, Anto, dan yang lainnya ya,” aku sedikit menggunakan taktik jituku. Mengiming-imingi mereka dengan jatah makan malam yang jarang mereka dapatkan denagn layak.
“Tata mau makan Kak Dei, mauuu. Tata turun deh kalo gitu. Temen-temen ayo turun, kita mau di traktir Kak Dei lho,” seru Tata bersemangat. Aku tersenyum simpul, geleng-geleng kepala melihat anak-anak kecil yang ramai turun dari rumah pohonnya.
 “Karena masih gerimis, kita mampir ke musholla dulu yuk,” kataku sambil mulai melangkah bersama anak-anak kecil ini.
Baru beberapa langkah tiba-tiba seorang pria paruh baya keluar. “Heh, mau kemana kamu Asep? Kerja lagi nanti kalau hujannya sudah reda, jangan ngeloyor terus!”
“Asep pergi sama Kak Dei, Pak,” jawab Asep takut-takut, bersembunyi di balik jaketku. Aku berinisiatif menemui bapak Asep.
“Assalamu’alaikum Pak, ini Dei. Maaf Pak, saya cuma mau ngajak adek-adek ke musholla sebentar, kasian mereka kehujanan disini. Nanti saya antar mereka kembali kok Pak,” kataku setenang mungkin.
Tiba-tiba muncul seorang ibu-ibu sedang menggendong bayi. Ibunya Siti. Kemudian berkata, “Oalaah, Mbak Dei tho iki. Wis, rapopo Mbak Dei, diajak wae si Siti sama temen-temennya, aku juga lagi repot iki, daripada mereka malah ribut terus. Iki lho Pakdhe sing jenenge Mbak Dei, sing biasane ngasih nasi bungkus buat kita itu,” kata Ibunya Siti kepadaku kemudian pada Bapak Asep.
Aku hanya tersenyum sebentar, kemudian menunggu bapak Asep mengangguk. Akhirnya bapak Asep mengizinkan kami untuk pergi.
Kami melanjutkan perjalanan kembali. Tujuan kali ini adalah musholla kecil di seberang jalan raya. Belum lama setiba kami di musholla, adzan Maghrib terdengar. Aku mengajak anak-anak untuk sholat.
“Ah, Siti udah lupa bacaan salat, Kak Dei. Ibu nggak pernah salat sih,” kata Siti.
“Iya Kak Dei, Tata sama yang lain juga udah lupa,” tutur Tata. Disambut tanda setuju dari teman-temannya. Aku tersenyum mengerti, kemudian berkata,
“Sekarang, dicoba lagi ya. Ambil air wudhu, trus kita sholat bareng-bareng di dalem. Kalau lupa bacaannya, dengerin imamnya dulu, insyaAllah besok Kak Dei ingetin lagi deh bacaannya. Oke?”
“Asep nunggu diluar aja deh Kak Dei, malu, bajunya asep kan kotor, nggak seperti orang-orang itu,” tukas Asep.
“Asep, Allah nggak liat bajunya Asep. Yang Allah lihat itu, gimana Asep sholatnya nanti. Yang Allah denger itu bukan pujian baju bagusnya Asep, tapi doanya Asep. Nah, sekalian aja nanti Asep minta sama Allah untuk dikasih baju baru. Ya?”
Asep terdiam sejenak. Teman-temannya juga. Kemudian mengangguk kecil. Teman-temannya yang lain segera megikuti. Mereka akhirnya berwudhu, terlepas dari wudhu yang “ala kadar”nya saja.
Kini tinggal rintik gerimis kecil. Langit pun mulai gelap. Lampu-lampu penerangan jalanan sudah menyala sejak tadi. Mentari berganti bohlam-bohlam listrik. Trotoar jalanan mulai ramai oleh pedagang kaki lima. Dan kini kami singgah di sebuah warung makan setelah sholat Maghrib berjamaah. Asep dan teman-temannya terlihat ceria sekali melihat makanan terhampar di depannya. Segera ia memasukkan sesuap nasi ke mulutnya. Aku menghentikan gerakan sendoknya sejenak.
“Hayoo, udah pada baca doa belum? Baca doa dulu yuk, biar Allah besok masih memberi kita makanan lagi. Ada yang mau mimpin baca doa?” aku melirik pada anak-anak lugu di depanku satu-persatu.
“Hmmm..pada lupa ya doanya. Yaudah Kak Dei aja dulu deh yang mimpin, lain kali gantian adek-adek ya..,” kataku sambil menatap mereka. “Ikutin doa Kak Dei ya Adek-adek. Allahumma baariklanaa fiima rozaqtanaa waqinaa adzaabannaar…aamiin.”
Aku kehilangan selera makan. Entah mengapa melihat wajah-wajah lugu mereka yang sedang makan sudah membuatku kenyang. Ah, andai saja… Tiba-tiba aku teringat dengan proposal yang masih tersisa di ranselku. Aku tau aku tidak boleh menyerah. Seperti mereka yang tidak menyerah dengan keadaan mereka pula.
“Akhirnya kita bisa makan ya, gara-gara hujan seharian kita batal ngamen dan nggak dapet duit sama sekali,” celetuk Agus sambil sedikit mendengus kesal.
“Iya, untung Kak Dei dateng, trus ngajakin kita makan, hehe,” Siti melirik ke arahku. Aku tersenyum saja mendengar celoteh-celoteh mereka.
Tiba-tiba Asep yang duduk di sampingku menarik jilbabku lembut. Aku menoleh ke arahnya, dan dia berbisik di telingaku, “Kak Dei, boleh minta bungkusin nasi untuk bapak di rumah?”
Aku tersenyum, “Iya, boleh kok. Sekalian buat yang lain ya, coba Asep hitung yang belum makan siapa, nanti kita bungkusin. Oke?”
Asep terlihat cerah wajahnya, “Makasih Kak.”
Setelah aku membayar semua bungkus nasi dengan hasil tabungan dan sumbangan dari mama, saatnya kami pulang. Beramai-ramai kami menyusuri trotoar yang sesak oleh pedagang. Kemudian menyeberang jalan raya untuk sampai di “rumah” mereka.
“Pak, ada makan Pak, dari Kak Dei,” kata Asep kepada bapaknya. Bapak Asep melihat bungkus nasi itu sebentar, kemudian mengambilnya, lalu masuk lagi ke dalam kemah kardus itu. Asep menyusul bapaknya ke dalam. Demikian juga dengan anak-anak yang lain, segera mencari orang tuanya masing-masing. Mereka yang tidak punya orang tua berkumpul bersama, bermain, dan bercanda sekedar untuk melupakan kesedihan mereka.
Aku lekas pamit pada anak-anak itu dan juga orangtuanya. Saat hendak pergi, Asep dan Agus mengejarku.
“Bapak bilang makasih Kak Dei. Kata Bapak, kalo besok kesini lagi, Kak Dei bawa presiden ya, biar kita dibuatkan rumah yang nggak usah ganti-ganti kardus tiap hari,” Asep berujar polos. Aku tertegun. Ya Allah..
“Kak Dei, kita anterin pulang ya. Kata bapak sama ibu kita harus jagain Kak Dei sampai rumah, soalnya ini udah malem. Bapak sama ibu udah ngasih izin kok, dan kita pasti bisa jaga diri. Kan kalo Kak Dei nggak bisa berantem, hehe,” Agus terkekeh.
Aku memandangi mereka, merangkul pundak mereka yang kurus, mengusap lembut rambut keduanya. Gerimis mereda, berganti air mataku yang kini menggenang di pelupuk mata. Aku pura-pura mendongak ke atas, agar air mataku tak terlihat oleh mereka. Wahai gelapnya langit, saksikanlah..
Sesampainya di rumah, mama menyambutku di ruang tamu. Mama tersenyum, segera aku memeluknya.
“Capek Dei?” tanya Mama sembari mengusap kepalaku yang masih terbalut jilbab.
“Belum Ma, tidak akan… Sampai Dei bisa menyaksikan mereka mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.”
Aku terkantuk hingga akhirnya terlelap di pangkuan Mama. Mama memang selalu menjadi tempat persinggahan pertama dan terakhir. Dan aku, ingin menjadi tempat persinggahan pula untuk anak-anak kecil itu, calon generasi penerus yang akan mengubah negri ini.
***
            Masih tersisa satu lagi proposal di ranselku. Berharap siapapun dapat mengabulkan permohonan ini. Tidak perlu mahal, tidak perlu mewah. Sederhana saja, sesederhana permintaan tulus dari mereka, akan sebuah jaminan kehidupan yang lebih layak dan memadai.
“Proposal Permohonan Dana. Rumah Singgah Anak Jalanan”

Persinggahan Terakhir #1



Sepucuk daun cemara meliuk-liuk mengikuti rayuan angin. Deras hujan masih mengguyur dari pagi hingga sore kini. Aku melihat bulir-bulir hujan jatuh mengenai jendela kaca di sampingku, perlahan tetesan itu turun, menyapu lembut permukaan kaca, hingga berujung pada kusen jendela. Tanpa sadar jari telunjukku menempel pada kaca, mengikuti tetes-tetes itu menari, membentuk formasi yang aku sendiri tidak tahu apa bentuknya.
Aku masih diam mengamati hujan dari balik kaca jendela. Secangkir white coffee yang aku pesan sepertinya sudah mulai dingin.  Ibu jari dan telunjuk tangan kananku kini sudah melingkari gagang cangkir, sedang jari telunjuk kiriku menari berputar di bibir cangkir putih itu. 

“Heh, ngelamun aja.”
Aku tersentak, kaget. Kemudian menarik tanganku dan akhirnya berhadapan dengan perempuan manis di depanku.
“Eh, Mbak Shofi ngagetin aja nih. Apa kabar Mbak?” tanyaku sembari berjabat tangan dengan perempuan seperempat abad itu.
“Baik. Kamu? Maaf ya telat, kamu udah nunggu lama ya tadi?”
“Alhamdulillah baik Mbak. Ah, nggak juga kok Mbak,” jawabku sedikit berbohong. Sejujurnya, sudah satu setengah jam lebih aku menunggu dari jam yang telah kami sepakati kemarin.
“Tadi Mbak masih ada kerjaan Dei, jadi baru bisa kesini sekarang. Ini Mbak juga nggak bisa lama ya, soalnya habis ini masih ada acara lain. Gimana?” kata Mbak Shofi merasa tidak enak.
“Nggak apa kok Mbak. Dei cuma mau tanya aja, kira-kira gimana ya Mbak, sama proposal permohonan dana dari Dei kemarin?”
Mbak Shofi terlihat menghela napas sejenak, kemudian menggenggam tanganku. “Mbak minta maaf Dei, Mbak sudah mengusahakan semampu Mbak untuk bilang pada atasan Mbak. Tapi sepertinya pengeluaran kantor juga sedang banyak, jadi belum bisa menerima proposal kamu.”
Aku tersenyum getir. “Jadi begitu ya Mbak, yaudah Mbak, nggak apa kok. InsyaAllah masih ada jalan lain.”
Mbak Shofi sepertinya masih terlihat tidak enak padaku. Kemudian mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya, dan menjulurkannya padaku.
“Ini Dei, coba kamu masukin juga proposalnya ke alamat yang ditulis di kartu nama ini. Kebetulan orang yang menjalankan perusahaan itu salah satu temen Mbak, siapa tau dia mau bantu kamu.”
Aku menerimanya canggung, melihat ke Mbak Shofi sebentar, kemudian tersenyum dan berkata, “terima kasih banyak Mbak.”
Tak lama setelah aku menerima kartu nama itu, Mbak Shofi segera pamit. Ia menawariku untuk pulang bersamanya, tapi aku menolaknya halus. Setelah ini masih ada tempat yang harus aku kunjungi.


(bersambung)

Selasa, 25 Oktober 2011

Bunda, Izinkan Aku Bertemu Ayah

Seorang gadis kecil berusia sembilan tahun tengah tertidur pulas. Diruangan yang terbilang cukup lebar, mewah, namun tidak nyaman. Karena bau obat bercampur disana-sini. Tangannya yang kecil tersambung dengan selang-selang infus yang entah sudah keberapa.

Disampingnya, terduduk seorang wanita paruh baya yang mengamati gadisnya sendu. Berkali-kali ia memperhatikan anaknya yang sedang tertidur pulas. Kadang sebulir dua bulir air mata menempel di pipinya tanpa sengaja, kemudian buru-buru ia menghapusnya.
Bunda takut kamu tidak akan bangun lagi, Nak.

Mata si gadis kecil mengerjap. Sang bunda dengan sabar menanti hingga matanya terbuka sempurna. Kemudian memberikan senyum saat gadis kecil itu melihat ke arah dirinya.

“Ada apa Sayang? Bunda disini,” kata sang bunda.

“Dinda tau kok Bunda,” jawab si gadis lemah.

“Dinda mau apa Sayang? Dinda mau minum dulu?”

Si gadis hanya menggeleng pelan.

“Bunda, bahagia itu seperti apa?” tanya si gadis tiba-tiba.

Sang bunda terdiam sesaat. Bingung dengan pertanyaan putri semata wayangnya.

“Apa Bunda sekarang bahagia?”

Belum satu pertanyaan dijawab, putrinya memberi pertanyaan lagi.

“Iya sayang, Bunda bahagia,” jawabnya. Bunda bahagia sekali melihatmu masih dapat berbincang dengan bunda, Nak.

“Bahagia itu saat Bunda menikah dengan Ayah?”

“Iya, Bunda bahagia. Apalagi setelah Bunda memiliki Dinda,” ujar sang bunda sambil tersenyum manis.
Namun dalam hatinya teriris. Pernikahannya 10 tahun yang lalu amat membahagiakannya. Kebahagiannya memuncak setelah ia melahirkan Dinda, putri semata wayangnya. Namun sepertinya kebahagiaan miliknya hanya sampai ketika Dinda meginjak umur tujuh bulan. Suaminya, Ayah Dinda meninggal dalam suatu kecelakaan konstruksi dalam pekerjaannya. Ia mengalami depresi berat saat itu. Namun berkat bantuan dari keluarga yang mendukungnya, berkat Dinda kecil, ia berhasil bangkit.

Ibarat selamat dari banjir, ia terhadang badai. Setelah bertahun-tahun menjadi single parent, kini ia harus menerima kabar buruk. Lagi. Buah hatinya tercinta divonis mengidap kanker darah, diusianya yang amat muda, delapan tahun.

Hidupnya kembali tidak tertata. Yang ada dipikirannya hanya Dinda. Sudah sebulan ini Dinda dirumah sakit, lantaran penyakitnya yang kian memburuk. Ia selalu meminta kepada dokter bagaimanapun caranya agar menyelamatkan nyawa Dinda. Ia tidak ingin kehilangan permata satu-satunya.

“Bunda…,” Dinda menyadarkan sang bunda dari lamunan masa lalunya.

“Iya Sayang?”

“Dinda tidak pernah melihat Ayah. Apa Ayah sangat tampan?”

“Tentu. Ia sangat tampan, makanya Dinda juga cantik,” goda sang bunda.

Si gadis tertawa lemah. “Ah, Bunda ini. Apa Ayah juga baik Bun?”

“Ayahmu adalah laki-laki terbaik yang pernah Bunda kenal. Ada apa sayang? Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Ayah?”

“Emmm, nggak apa Bun. Dinda cuma kangen Ayah, kan Dinda belum pernah melihat Ayah.”

Sang bunda tertegun. Jangan Sayang, jangan sekarang..

“Yasudah, Dinda istirahat lagi ya, nanti ndak kecapean. Oke?” kata sang bunda pura-pura tegar.

“Bunda sedih ya ditinggal Ayah?” si gadis tetap melanjutkan perbincangan mereka, meski dengan suara yang melemah.

Sang bunda menghela napas sebentar, “Iya Sayang, tapi sedih Bunda terobati karena masih ada Dinda,” lanjut sang bunda dengan tersenyum kearah gadisnya itu.

“Kalau Dinda pergi, Bunda..juga sedih?”

Sang bunda mulai tak tahan. Sebulir air mata jatuh dipipinya. “Ssst, Dinda ini ngomong apa sih. Sudah, ayo Dinda istirahat,” sang bunda menjawab sembari membenahi letak selimut anaknya.

Tangan si kecil menggenggam lengannya.

“Bunda, kalo Dinda pergi, Bunda jangan sedih ya. Bunda jangan menangis. Dinda ingin Bunda bahagia. Maafkan Dinda ya Bun, karena selama Dinda sakit Bunda tidak bahgia. Kalo Dinda pergi, Bunda masih punya Allah. Allah tidak mati Bunda, Allah akan ada untuk Bunda. Sebagaimana Bunda selalu ada saat Dinda membuka mata.”

Sang bunda semakin perih batinnya. Tak ada sura yang mampu keluar. Ia hanya menangis dan berkali-kali mengecup kening dan pipi putrinya.

“Bunda jangan menangis.. Bunda tidak boleh sedih. Bunda, Dinda bosan dengan rumah
sakit ini. Dinda ingin bertemu Ayah. Dinda akan bahagia kalo bisa bertemu Ayah.”

Sang bunda memeluk tubuh mungil putrinya yang kian melemah. Pelukannya semakin menguat. Tangisnya semakin membanjir.

“Bun..da, ba..ha..gia kan.. ka..lo Din..da ba..ha..gi..a?” tanya si gadis dengan terbata dan susah payah.

Bundanya hanya bisa menangis, hingga akhirnya mengangguk pelan.

Maafkan Bunda Nak, maaafkan Bunda..

“I..zin..kan Din..da ber..te..mu..de..ngan..A..yah ya..Bun?”

Sang bunda tidak megendurkan pelukannya, hanya berbisik pelan pada telinga gadis kecilnya.

“Iya Sayang..maafkan Bunda..Bunda mencintaimu Nak..” katanya pelan.

Perlahan ia melepas pelukannya. Dan tangisnya tumpah, melihat gadis kecilnya pergi dengan senyuman termanisnya. Ia megusap wajah gadis kecilnya lembut.

“Sampaikan salam Bunda untuk Ayah ya, Dinda Sayang. Tunggu Bunda disurga Nak..” lirih sang bunda.

“Bunda, Dinda sayang sama Bunda. Dinda juga sayang sama Ayah. Walaupun Dinda belum pernah melihat Ayah. Dinda sayang semua yang disayang Bunda.Semoga Allah juga sayang sama Dinda, kaya sayngnya bunda ke Dinda”