Senin, 27 Mei 2013

masih panjang

jalanmu masih panjang nis, ujian masuk kuliah nggak cuma ada satu, masih ada banyak jalan lain yang belum kamu coba.

percayalah, dengan mencoba banyak jalan, pada akhirnya kamu justru mendapat lebih banyak pelajaran berharga.

lekaslah berdamai dengan hatimu sendiri, lekas bangkit dan kejar yang masih tersisa di depanmu.
harapan itu masih ada, mimpimu itu masih menyala kalau kamu mau berlari lebih kencang lagi.

jangan berandai-andai, sudahi.
perbanyak lagi dzikirnya, perlama lagi sujudnya, persering lagi shaum sunnahnya. jangan bosan merayu-Nya, jangan bosan meminta pada-Nya.

percayalah, percayalah Allah masih mencintaimu, percayalah..
karena inilah cara-Nya untuk mencintaimu, membuat dirimu lebih tangguh lagi. membuat dirimu untuk lebih lebih lagi mencintai-Nya pula...


Sabtu, 04 Mei 2013

bukan sandiwara langit #end


“Anak sholeh, boleh Ibu pinjam robotnya sebentar?” tanya sang Ibunda Guru.

Bagus buru-buru menggelengkan kepalanya, kemudian menyembunyikan robotnya di balik punggung. Kemudian Sang Guru juga berbalik. Kini berhadapan dengan robot yang di genggam erat oleh Bagus.

“Kalau begitu, Om Robot, Ibu Guru boleh pinjam Den Bagus nya sekarang? Habisnya Den Bagus nggak mau ngomong tuh,” Ibu Guru mencoba bercanda.

Berhasil. Bagus tersenyum, sedikit. Kemudian melirik perlahan-lahan ke arah Ibu Guru.

“Den Bagus yang sholeh, robotnya kita ajarin ngaji yuk? Biar robotnya juga jadi robot yang sholeh? Gimana? Den Bagus setuju?” rayu Ibu Guru.

Bagus tidak berkata apa-apa, tapi mengangguk perlahan.Ibu Guru tersenyum. Sang Suami yang melihat dari jauh ikut tersenyum.

“Nah, ayok kita ajarin robotnya Den Bagus. Coba Den Bagus buka iqro’nya ya, biar Ibu Guru bantu,” kata Ibu Guru dengan sabar.

Bagus membuka buku iqro’nya. Hingga terbentanglah barisan huruf-huruf arab di hadapannya. Bagus menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menatap Ibu Guru, memohon bantuan.

“Nah, yang ini namanya alif, Den Bagus. Hurufnya kayak tongkat, panjang. Dibaca ‘a’. kalo yang mirip mangkuk besar dan ada telur satu di bawahnya itu huruf ba’, bacanya’ba’. Nah, kalo yang di sebelahnya, yang sama-sama mirip mangkuk besar, tapi ada dua telur di atasnya, namanya huruf ta’, di baca ‘ta’,” Ibu Guru mencoba menjelaskan dengan penuh perhatian.

Bagus mencoba mencerna. Raut wajahnya menampakkan sebuah kebingungan. Sepertinya apa yang Ibu Guru jelaskan belum ia pahami betul.

“Den Bagus mau coba sama-sama baca sama Ibu?”

Bagus menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. Ibu Guru tersenyum senang.
“Yuk kita baca sama-sama. A-BA-TA.” Ibu Guru membantu mengeja. Tapi Bagus tetap diam, hanya memperhatikan apa yang Ibu Guru baca, tidak menirukannya.

“Loh? Kok Bagus diam saja?” seorang gadis cilik berjilbab kuning mengomentari sebelum Ibu Guru membuka mulut.

“Temen-temen, sini deh. Ayo kita bantuin Bagus mengeja,” gadis jilbab kuning memanggil teman-temannya. Kemudian berkumpul sepuluh anak kecil yang ramai. Mengelilingi Bagus yang masih terlihat bingung.

“Hanya baca saja Bagus, ikuti Ibu Guru,” ujar anak laki-laki bertopi biru.

“Ayo teman-teman, kita baca bareng-bareng saja yuk, biar Bagus juga mau baca. Bagus janji ya, baca bareng-bareng kita?” jilbab kuning mengomando. Bagus hanya mengangguk ragu.

A, BA, TA,” serentak campuran suara sebelas anak kecil mengudara. Menembus batas-batas langit, hingga mungkin menggetarkan awan-awan yang di lewatinya.

“Eh, tadi Bagus baca juga. Ayo coba Bagus baca sendiri,” giliran topi biru kembali angkat suara.
Bagus malu-malu, kemudian memandangi buku iqro’ di depannya. Ia memejamkan matanya, sebentar, kemudian membuka matanya lagi. Tersenyum.

A, BA, TA.”
Lantang. Tapi kali ini bukan suara sebelas anak kecil. Kali ini sebuah suara yang di miliki seorang anak berumur tujuh tahun. Yang sejak dua tahun lalu hidup sebatang kara di panti asuhan. Yang sejak dua tahun lalu hanya berteman sebuah robot peninggaalan ayah tercinta. Dan yang sejak dua tahun lalu berhenti berbicara. Kali ini adalah suara pertamanya setelah dua tahun bibirnya terkunci rapat tanpa sebuah kata. Setelah dua tahun peristiwa menyedihkan menimpa ayah ibunya. Dan suara pertama yang ia ucapkan adalah “A, BA, TA”.

Sepasang suami istri yang kini berdiri berdampingan menampakkan wajah haru gembira. Melihat anak-anak kecil yang sedang asyik menghabiskan bekalnya. Saling berbagi, berebut, mengejek, dan ulah kekanakan lainnya.
Hingga tiba ketika matahari akan tenggelam menunggu hitungan menit. Anak-anak kembali bertemu dengan orangtua tercinta mereka. Kelas mengaji sore hari mereka telah habis. Saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Saatnya untuk pulang ke dalam pelukan hangat ayah dan bunda. Sedang kedua guru itu harus merelakan mereka kembali kepada orangtuanya. Waktu yang mereka punya untuk ‘memiliki’ anak-anak itu hanya sembilan puluh menit dalam sehari.

“Ayah, andaikan saja Allah memberi kita kesempatan untuk memiliki cahaya-cahaya seperti mereka,” ucap Sang Istri tiba-tiba sembari menghapus genangan yang ada di pelupuk matanya.

“Sudahlah Bunda, jangan berandai-andai. Allah telah menggariskan yang terbaik untuk kita. Bersabarlah, jalan Allah selalu ada,” Sang Suami mencoba menenangkan, walaupun sebenarnya ia merasakan hal yang sama.
Kemudian dengan tiba-tiba Sang Suami menarik tangan istrinya. Mengajaknya menghampiri seseorang yang berjalan sendirian dengan robot tergenggam di tangannya.

“Bagus, tunggu,” ujar sang Bapak Guru. Bagus menoleh sejenak, menghentikan langkahnya.

“Ayo kita pulang sama-sama,” ucap Sang Guru. Bagus terlihat kaget.

“Bagus mau nggak, kalo Ibu Guru jadi bundanya Bagus?”

Sang Istri terperanjat, kaget. Kemudian menggenggam erat tangan suaminya. Memahami apa yang suaminya maksudkan. Kini tinggal menunggu apa jawaban Bagus.

Bagus terlihat berpikir sejenak. Di antara sayup-sayup adzan maghrib yang terdengar, ia mengangguk dan tersenyum senang. Sepasang suami-istri itu tak terhitung bahagia rasanya. Sang Istri mengucap hamdalah berkali-kali hingga menitikkan air matanya.

“Baiklah. Ayo sekarang kita sholat dulu. Setelah itu kita ke panti untuk mengambil barang-barang Bagus dan berpamitan dengan orang-orang di panti. Yuk,” ajak Sang Ayah.

Sang Ayah menggamit tangan kanan Bagus, sedang tangan kirinya di genggam oleh ibu guru yang kini menjadi bundanya itu.

Dalam langkah beriringan keluarga kecil yang baru saja terbentuk itu saling mengucap syukur dalam hati. Bersyukur atas segala keterbatasan yang mereka miliki. Bersyukur atas hadirnya sosok-sosok yang mampu melengkapi keterbatasan itu. Bersyukur atas kebahagiaan yang pasti ada walaupun kadang tersembunyi. Bersyukur, bersyukur atas segala yang mereka miliki dan tidak mereka miliki.

Matahari kini sempurna tenggelam. Berganti bulan yang malam ini masih separuh. Gemintang mengerlip, formasi-formasinya yang menakjubkan membuat elok paras langit malam. Sang hujan tidak jadi turun malam ini. Mungkin ia memberi waktu kepada mereka yang sedang berbahagia untuk bersyukur mengenang nikmat Tuhannya. 

Senin, 01 April 2013

morning lesson

pagi ini disambut dengan rasa haru ketika berangkat sekolah. 
seperti biasa, jalan dari kos ke sekolah. sampai  di depan gerbang sekolah, saya melihat adek kelas, ikhwan, pake jaket POH yang baru turun dari boncengan ayahnya. 
yang membuat saya sangat terharu sampai hampir menitikkan air mata itu, adalah jaket/rompi berwarna kuning terang yang bertuliskan 'satuan ojek ...' yang dikenakan ayahnya.
si adek tadi mencium punggung tangan ayahnya takzim.
lagi-lagi saya hanya bisa memperlambat jalan sambil menahan haru, melihat drama di pagi ini.
seorang anak yang rela diantarkan sang ayah dengan berbangga hati.
tidak, saya tidak mau mengatakan pekerjaan itu 'hanya' sopir ojek. 
karena bagi saya semua profesi itu hebat. sama-sama memberi kemanfaatan.

sungguh, Allah tak henti-hentinya membuat saya belajar. membuat saya lebih qana'ah. membuat saya menghentikan keluhan. membuat saya harus merasa bersyukur setiap saat.




Jumat, 29 Maret 2013

perempuan jawa


Aku terlahir dengan darah murni orang Jawa. Mama dan papa sama-sama orang Jawa asli. Meskipun kami bukanlah penganut aliran Jawa-isme, tapi tetaplah kami sebagai orang Jawa. Suku yang memiliki tata-krama cukup tinggi menurut saya.

Sebagai seorang Jawa, ada banyak sekali mitos yang sering berkeliaran di telinga saya. Misal, kalo makan di depan pintu, nanti jodohnya jauh. Kalo nyapu nya ga bersih, nanti suaminya brengosan, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya, mitos-mitos itu hanyalah senjata agar orang Jawa tidak melakukan tindakan yang dinilai tidak ber-etika. Mitos tersebut dijadikan nilai sosial oleh mayoritas orang Jawa. Sesuatu yang dianggap berharga dan patut dipertahankan. Misalnya, kalau kita makan ya tempatnya di meja makan, kalau duduk ya di kursi, bukan di bantalan tidur, kalau makan harus bersih dan tidak kecap, dan sebagainya.

Itu tadi baru sebagian tata kelakuan dari orang Jawa. Untuk bagian perempuan, lebih banyak lagi. Lebih banyak yang harus diperhatikan ketika menjadi bagian dari perempuan Jawa. Tapi yang sering saya lihat sekarang, banyak perempuan Jawa asli yang sudah lupa identitas 'Jawa' nya.

Yang pertama, sebagai seorang perempuan Jawa (terutama bila sudah baligh) haruslah bisa mengurus dirinya sendiri. Urusan pribadinya harus beres. Karena nanti dia yang akan mengurus rumah tangganya.

Sebagai seorang perempuan Jawa, dan saya rasa di suku lain pun seperti itu, perempuan dituntut untuk bisa memasak. Sebenarnya saya tidak suka bahasa 'menuntut' itu, karena bagi saya, memang kodratnya perempuan itu harus bisa masak. Apalagi kalo sudah menikah, masakan bisa jadi penambah keharmonisan rumah tangganya.
Sedikit banyak, bagi saya seorang perempuan Jawa haruslah bisa memasak. Bisa menakar kadar gizi untuk keluarganya nanti. Memastikan keluarganya makan dengan sehat dan teratur. Sehingga anak-anak dan suaminya nanti tidak perlu memakan jajanan diluar rumah yang belum jelas thoyyibnya.

Perempuan Jawa itu harus bisa menjaga keharmonisan dan martabat rumah tangganya. Menjaga keluarganya dari fitnah dan gunjingan. Menjaga suami dan anak-anaknya. Membantu suami meringankan perkerjaan, memotivasi dan menguatkannya, memperhatikannya dengan penuh sayang. Juga  membimbing anak-anaknya dengan baik agar menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya.

 Perempuan Jawa juga tidak neko-neko. Sederhana dan apa adanya meski ia dari bangsawan sekalipun. Rendah hati dan sopan-santun itulah yang biasa menjadi ciri dari perempuan Jawa. Tidak suka nongkrong hanya untuk kesenangan semata yang sia-sia. Perempuan Jawa lebih suka membuat kreasi masakan dan dekor di rumah daripada mendatangi cafe-cafe atau mall hanya untuk sekedar nongkrong.

Tetapi perempuan Jawa juga harus bisa belanja. Ya, belanja. Memenuhi kebutuhan di rumah. Memberikan pakaian yang layak untuk keluarga. Memilihkan jas yang baik untuk suami. Memakaikan anaknya pakaian yang pantas dan sesuai syariat.
Apabila ada kolega yang sedang punya hajat juga terampil untuk menggunakan anggaran membeli buah tangan. Membawa bingkisan untuk bapak-ibu maupun mertua juga termasuk dalam ini.
Tentunya belanja yang sesuai dengan anggaran rumah tangga. Tidak berlebihan tapi pantas.

Oya, yang tak kalah penting, perempuan Jawa harus bisa dandan. Berdandan disini maksudnya bukan dandanan menor begitu. Tapi dandan yang sewajarnya. Misalnya dengan mandi sehari dua kali. Agar terlihat bahwa perempuan Jawa wajahnya cerah berseri. Adapun berdandan yang sesungguhnya, hanya ia kenakan di dalam rumah ;)

Yang terakhir dan paling penting, perempuan Jawa diharap memiliki pendidikan. Baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan formal misalnya dengan sekolah hingga menuju dunia kampus. Semakin tinggi jenjangnya, semakin banyak pula ilmu dan wawasannya. Semakin luas pengetahuannya untuk mendidik anaknya nanti.

Pendidikan non formal misalnya ketrampilan menjahit, membuat kue, membuat kerajinan tangan, menyetir, dan banyak kegiatan positif lain. Gunanya untuk menambah ketrampilan perempuan. Kalau-kalau nanti sang suami lebih memilih sang istri untuk bekerja di rumah mengurus anak, maka ada suatu hal yang bisa 'disambi'.

Dan yang paaling utama, perempuan Jawa haruslah memiliki bekal agama yang minimal baik. Kalau bisa lebih malah. Karena pada agama dan tuntunan-Nya lah semua itu bersumber.

Ingat, seorang ibu itu menjadi tonggak bagi bangsanya. Dari rahimnya lah kelak akan lahir jundi-jundi kecil yang akan meneruskan perjuangan orangtuanya. Maka bila sejak kecil si anak sudah ditanamkan ilmu-ilmu ukhrowi, akan banyak sekali calon generasi penerus bangsa yang insyaAllah akan lebih baik lagi. Generasi rabbani.

Saya orang Jawa. Tapi tanpa Indonesia saya takkan pernah menjadi seorang Jawa. Dan yang pasti, saya seorang muslimah. Saya akan berusaha sekuat mungkin menjadi seorang perempuan Indonesia berdarah Jawa yang bisa mengharumkan nama agama dan bangsa saya. Saya akan berusaha untuk menjadi agen muslim yang baik :) 

Senin, 25 Maret 2013

Bukan Sandiwara Langit #1


Sore itu langit masih berbaik hati menangguhkan hujannya, sehingga mentari yang akan berbaring terlihat meganya. Langit semakin terlihat mempesona dengan kumpulan kumulus yang berarak perlahan, menyisakan bias-bias putih seperti bunga kapas.

Sore ini taman yang terletak di pusat kota sudah mulai ramai. Lampu taman dinyalakan satu persatu, mulai dari ujung utara hingga selatan. Namun tetap, terangnya tak mampu mengalahkan sang jingga yang meski berbayang. Bangku-bangku taman di penuhi pasangan muda-mudi yang sedang asyik bercengkerama, beberapa orang tua dan keluarga kecil memilih menggelar tikar dan menyiapkan bekalnya di bawah pohon flamboyan yang tengah berbunga.

Sepasang suami istri mengarahkan sebelas anak-anak kecil berbaju muslim ke pojok taman. Menggelar tikar, meletakkan tas dan bekal-bekal mereka ke atasnya. Kemudian mereka semua membuat formasi lingkaran besar. Sang suami dan istri duduk berseberangan. Di sekelilingnya ramai anak-anak yang asyik berceloteh ria.

“Fika, kamu bawa bekal apa? Aku dibuatin ayam goreng nih sama mama,” celetuk seorang gadis cilik berbaju merah.

“Cuma mie goreng. Ibu nggak sempat masak apa-apa,” gadis cilik yang di panggil Fika menjawab sambil menunduk lesu.

“Yasudah, nanti kita bagi berdua ayam gorengnya, Fika,” ujar gadis berbaju merah sambil tersenyum riang.

“Anak-anak, ayo kita mulai ya ngajinya, ayo bareng-bareng baca basmalah dulu,” Sang Suami memulai forum, membuat percakapan ringan di antara mereka terhenti seketika.

Serentak bacaan tasmiyah menggema di pojok taman itu, menggetarkan ranting-ranting flamboyan di atasnya. Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Bu, Lia nggak bisa baca yang ini,” seorang gadis bernama Lia menghampiri Sang Guru. Sang Guru dengan sabar menuntun muridnya membaca kata perkata dalam buku Iqro’nya.

“Kalau alif ketemu sama huruf lam, di baca ‘al’. jadi apa hayo bacanya?”

Al-ka-ma-ri-ya-tu,” sang gadis mengeja.

“Hmm, coba bareng-bareng sama Ibu. Bacanya al-qo-ma-ri-ya-tu. Begitu Lia bacanya.”

“Oooh iya ya Bu, habisnya huruf qof sama kaf kan kalo di baca hampir mirip Bu,” ujar si gadis kecil. Mengucap terimakasih kemudian kembali melanjutkan membaca sendiri.

“Bapak Guru, si Bagus nggak mau baca iqro’ lagi tuh. Masa dari awal sampe sekarang dia cuma mau maen tapi nggak mau baca iqro’,” seorang anak laki-laki mengadu.

Sang Guru kemudian beranjak, menghampiri sesosok anak laki-laki berumur tujuh tahun yang asyik bermain dengan robot-robotannya. Dari awal pertemuan hingga hari ini dia masih belum mau mengaji. Mereka pikir, Bagus hanya sedang butuh waktu untuk beradaptasi dengan teman-temannya. Setelah melihat teman-temannya yang antusias belajar mengaji, ia pasti mau. Tapi ternyata perkiraan mereka sedikit meleset. Hingga hari ini Bagus masih tetap tak mau memegang buku iqro’nya.

“Bagus kenapa? Kok dari kemarin nggak mau ngaji?” tanya Bapak Guru.

Bagus hanya diam saja, masih asyik bermain dengan robot-robotannya. Tidak ia pedulikan Sang Guru yang duduk di sampingnya, mencoba merayunya untuk sekedar membaca satu alif.

Sang Istri datang, memegang lembut pundak suaminya. Dengan matanya, Sang Istri memberi isyarat pada suaminya untuk ‘menyingkir’. Sang Suami yang paham kemudian bangkit dari duduknya, dan beranjak menghampiri murid lainnya.
‘Ah iya benar, biasanya ini kan tugas ibu-ibu. Mengurusi anak yang spesial,’ batin Sang Suami.

*to be continued* 

Nyeri

bukan nyeri biasa. nyeri ini cuma dirasain sama kaum perempuan.
rasanyaa...nggak bisa diungkapkan deh.
bayangin aja, kalo bagian dalam rahim itu terkikis pelan-pelan. ya mirip-mirip gitu lah rasanya.
kalo nggak salah memang begitu kan ya prosesnya? sel telur yang tidak di buahi menempel pada rahim, kemudian karena tidak menjadi zigot, dia akan luruh. *besok Ekonomi ujiannya bukan Biologi -___-

dan ya, besok TPHBS hari kedua.bahasa inggris berpasangkan ekonomi.
dan ya, sama seperti sebelum-sebelumnya, saya terlampau sering untuk kedatangan tamu ketika ujian.
yang berakibat sampai menjelang pagi belum bisa tidur. tapi juga nggak belajar. cuma mlungker-mlungker, guling-guling, nahan rasa sakit perut yang teramat.

emang sih nggak semua perempuan ngalamin sakit yang sama. ada yang lancar-lancar aja. tapi ada juga yang sampai pingsan saking sakitnya. katanya sih tergantung pola makan, pola olahraga, bisa juga genetik.

dulu seriiiing banget ngeluh kalo lagi sakit begini, bilang sama mama,
"ma, kapan sih berhenti sakitnya? sampe kapan bakal ngrasain sakit kaya gini terus?"
dan banyak lagi keluhan-keluhan yang keluar.
dan mama dengan enteng menjawab,
"dulu mama juga gitu kok. besok berhenti sakitnya kalo udah melahirkan"
jeng jeng.... kaya disamber geledek dengernya.
setelah dihitung-hitung, kalo setahun ada 12 bulan, kalo target nikah saya 4 tahun lagi, dan target punya anak 6 tahun lagi, berarti 12x6 = 72. ya, kalo umur saya masih ada sampai 72 bulan lagi, barulah 'nikmat yang berupa sakit' ini hilang. subhanallah...

jadi bisa menilai bahwa perempuan itu memang mulia. gimana nggak, datang bulan udah sakit, besok kalo melahirkan lebih sakit lagi. tapi ya justru itulah yang membuat kedudukan perempuan itu mulia. kalo dia bisa sabar menghadapi semua itu pastinya *tuh nis, sabar*
subhanallah... merasa wow gitu terlahir jadi perempuan, hehe

sekedar pesan aja untuk diri sendiri, kalo sakit yang Allah kasih itu ada hikmahnya juga. misalnya kaya sekarang ini, karena lagi nggak sholat jadi belajarnya harus di kencengin lagi. walopun nggak ngaji, tapi ma'tsurot sama muroja'ahnya tetep lancar jaya. biar nggak semakin jauh dari Allah.
:')

betewe ini kenapa saya udah minum obat segala macem ga ngantuk dan ga ilang sakitnya juga ya x_x yasudahlah sabar....
semoga besok ngerjain TPHBS nya lancar jaya juga. amiiin o:) #kelastiga


Selasa, 19 Maret 2013

Aku, FLP, dan dakwah kepenulisan

Pagi-pagi gini dapet sms dari Mas Angga (ex Ketua FLP Yogya yang sekarang jadi kadiv kaderisasi). Beliau sedang baca esai yang pertama kali saya buat waktu open recruitment FLP 14. Dan beliau berkata "... ingin juga merasakan energinya kan?"

Daan, bener aja, beliau mengabarkan sebentar lagi mau ada Oprec FLP 15 dan Empatik 2 untuk angkatan 14. Soo, yang mau gabung sama kite-kite di FLP Yogyakarta persiapkan diri yak ;)

Dan ini tulisan setahun lalu waktu gabung di FLP

                                                                         ***


            Bagiku setiap tinta-tinta yang di goreskan adalah cinta. Dan cinta yang indah apabila tinta tersebut membentuk jalinan kata yang menyejukkan. Cinta yang tulus jikalau jalinan kata tersebut mampu merasuk ke dalam setiap nadi pembacanya. Cinta yang abadi, apabila setiap kalimat yang merasuk dalam nadi tersebut selalu mengingatkan pembaca kepada-Nya.
            
            Bagiku menulis tidak sekedar menggoreskan pena di atas kertas. Bagiku menulis merupakan suatu nafas yang setiap helaannya membawa cerita tersendiri. Bagiku tulisan merupakan sebuah perkataan dalam diam. Bagiku tulisan merupakan cerita yang tak dapat diucapkan. Dan bagiku, menulis seolah menanam benih, yang siap tumbuh menjadi bunga yang cantik.
            
            Setiap orang pasti bisa menulis. Setiap orang diberi kebebasan untuk menulis. Setiap orang berhak memilih apa yang akan ditulisnya. Sama seperti ketika seorang petani hendak menanam ladangnya. Ia bebas menentukan tanaman apa saja yang akan ia tanam. Ia bisa memilih jati, sehingga kayunya yang kokoh dapat dimanfaatkan untuk membuat sebuah pondasi. Ia pun dapat memilih buah apel, yang nantinya akan berbuah merah dan manis bila masak. Ia juga bebas memilih aneka bunga yang hendak bermekaran di ladangnya kelak. Dan aku, hendak menanam semuanya yang bermanfaat. Tak peduli itu jati, apel, atau mawar, bagiku mereka semua sama-sama memberi manfaat. Dan seperti jati, apel, atau mawar, aku ingin tulisanku bermanfaat pula.
           
           Pertama kali mengenal FLP ketika duduk di bangku SD. Saat itu seorang penulis bernama Izzatul Jannah mengunjungi sekolahku yang terletak di kota Surakarta. Saat itu aku tidak bergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik, tapi entah mengapa aku mengagumi bahasa-bahasa yang mereka tuliskan. Bahasa puisi khas anak SD yang menggambarkan pesona alam.
          
         Menginjak SMP, kembali tulisanku menghiasi lembar-lembar buku catatan. Hingga kemudian tergabung dalam sebuah ekstrakurikuler Jurnalistik yang tentornya dari FLP. Mengenal Mbak Biaz yang kini telah menuliskan sebuah novel berjudul “Bias Nuansa Jingga”, kemudian Mbak Flo, yang sewaktu SMA ini aku kembali bertemu dengannya di beberapa acara.

Melihat sosok-sosok akhwat tangguh seperti mereka membuatku amat sangat tertarik mempunyai keluarga bernama FLP. Semenjak saat itu selalu mengidamkan, “kapan ya bisa masuk FLP?”

Selalu mendambakan memiliki sebuah keluarga, yang disana kita tidak hanya belajar berorganisasi, tetapi juga belajar mengenai ukhuwah, dan tentunya dakwah. Dakwah melalui pena. Dan itu yang membuatku cinta. Aku ingin berdakwah melalui media yang aku sukai, yakni tulisan. Walaupun aku mafhum tulisanku belum sebaik penulis-penulis lain.

Maka dari itulah aku kemari. Belajar untuk memperbaiki kualitas tulisanku, kualitas dakwahku. Agar para mad’u nantinya datang berbondong-bondong, ikut menegakkan syi’ar Islam di bumi tempat kita berpijak. Karena sesunguhnya suatu tulisan itu dapat mengendalikan emosi dan pikiran kita. Mengendalikan jiwa-jiwa yang sedang marah kembali tenang, mengembalikan pikiran-pikiran yang buram menjadi sejernih embun.
Aku, FLP, dan Dakwah Kepenulisan… semoga semuanya serasi berpadu, membentuk sajak-sajak merdu yang menggema, merindu surga-Nya.