Selasa, 13 Agustus 2013

LONG TIME NO SEE YOU, MY BLOGIEEE!!! *maap lagi alay

oiya, mumpung masih syawal, taqaballahu minna wa minkum. mohon maap lahir batin ye my bloggiee..kamu sampe berlumut begini, hiks hiks

yasudah deh, setelah ini mau nge-post yang beneran, hwehehe.

selamat makan ketupat lebaran, selamat menikmati angpau, dan selamat ospek bagi maba *dumeh maba*  .__.

Senin, 08 Juli 2013

my precious gift ever

betapa harus bersyukurnya saya saat ini. Allah meridhoi perjuangan dan penantian saya selama ini. jodoh yang selama ini saya tunggu, akhirnya datang juga, bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan.

maka nikmat Allah mana lagi yang kamu akan dustakan, Nis? :')

masih teringat adegan pada sore, 8 Juli 2013 kemarin. menangis bahagia, pelukan bertiga sama mama-papa. akhirnya setelah beberapa kali keluarga kami diuji, saya bisa memberikan secercah senyum di wajah orangtua. bisa membuat mereka menangis bahagia dan lega. anaknya ini akhirnya bisa tembus universitas yang didambakan. dari seorang anak petani akhirnya bisa juga ke perguruan tinggi :'D

masih teringat dulu ketika orangtua tidak merestui pilihan ini saat mndaftar SNMPTN undangan. dan SBMPTN kemarin, saya benar-benar bersyukur akhirnya kedua orangtua meridhoi dan mendukung penuh pilihan saya. dan memang ridho orangtua adalah ridho-Nya pula. Allahu Akbar, Allah tunjukkan lagi kuasa-Nya pada saya.

ah, saya kehilangan kata-kata. bahagia ini tak terlukis dalam gambar maupun kata.

yang pasti, langkah setelah ini akan lebih berat. dan saya harus malu nanti ketika kuliah masih mengeluh. helloow, ini pilihanmu Nis, kamu susah payah untuk dapatkan ini, malu kalau nanti kuliah masih banyak mengeluhnya!

untuk teman-temanku yang masih berjuang lagi, yakinlah Allah amat mencintai kalian. Allah telah menyiapkan kado terbaik pula untuk kalian, dan akan didatangkan pada saat yang paling indah pula. doaku untuk kalian, selalu :')


Jumat, 05 Juli 2013

love will prevail

dunia. dunia. dunia.

dunia ini sedang memanas rupanya. tak henti-hentinya peperangan baik senjata maupun pikiran terus bergejolak membayangi saudara-saudara kita di belahan bumi lain.

saat ini indonesia sedang di rundung duka karena gemba bumi di Aceh, kenaikan BBM dan bantuan BLSM yang tidak merata, kasus korupsi yang semakin meluas, fitnah yang semakin menjadi.
Presiden terbaik (menurut saya) yakni Presiden Mursi, pemimpin Mesir, telah dikudeta militer Mesir sendiri. diambil kekuasaannya yang sah itu secara paksa. penggantinya bahkan tak lebih baik, dan mungkin perlu berabad-abad lagi bagi Mesir untuk mencari yang lebih baik.
Gaza under attack. sudah tak asing lagi dan Israel semakin girang karena pintu Rafah ditutup, sehingga semakin membungkam Palestina dari bantuan-bantuan negara lain.
jangan lupakan Suriah. negara yang sedang dijajah pemimpinnya sendiri itu semakin memprihatinkan. banyak orang tak bersalah ditembaki begitu saja.

tak ada kata yang lebih kejam dari kata 'dunia' saat ini. sungguh.
dan tak ada yang lebih menyakitkan dari rasa ingin membantu tapi tak punya daya apapun untuk membantu. yang kumiliki saat ini hanya doa ya Allah. doa yang trus mengalir untuk saudara-saudara kami.
saya mohon, tolong terus doakan saudara-saudara kita ya, sobat :")

***
Love Will Prevail by Maher Zain

There’s no fear in my heart
Got nothing left to lose
I saw my loved ones die
Oh, I swear that I won’t give in
By God you’ll never win
I’ll fight for what’s right
And nothing can stand in my way
Even if I get knocked down
I will stand my ground
And I’ll never
Hide or run away
Love will prevail
By God it will
Love will prevail
I refuse to fail
Love will prevail

Life’s become so cheap
So many orphans weep
They forgot how to smile
Oh, I cannot understand
Just how somebody can
Murder an innocent child
I swear their lives won’t be lost in vain
Even if I get knocked down
I will stand my ground
And I’ll never
Hide or run away
Love will prevail
By God it will
Love will prevail
I refuse to fail
Love will prevail
God made me free
You can’t take that away from me
Freedom is my destiny
I have a dream
And my dream is to see
To see all my people smile
See all of them free and proud
I feel the wind of peace
‘Cause with hardship comes ease
That’s why I won’t lose faith
And I know that God is Great
So, I’ll never
Hide or run away
Love will prevail
By God it will
Love will prevail
I refuse to fail
Love will prevail
I won’t run away
Love will prevail
By God it will
Love will prevail
I refuse to fail
Love will prevail

(Lyrics are taken from http://www.islamiclyrics.net/maher-zain/love-will-prevail/)







Sabtu, 22 Juni 2013

hujan setelah pertemuan kita

Malam setelah pertemuan kita, langit seolah ingin mencurahkan segala perasaanku. Rintik-rintik hujan menembus batas langit dan akhirnya jatuh di atas atapku. Bagaimana dengan atapmu? Terguyur derasnya hujan juga kah? :)

Hujan malam ini terdengar begitu syahdu untukku. Ia sedang menceritakan banyak hal padaku. Iramanya, baunya, dingin airnya, semuanya menarik. Sama seperti dirimu. Bagiku tak ada satupun darimu yang tidak menarik perhatianku.

Rintik diluar sana masih menjadi senandung pengiring tidurku. Tapi mata ini sungguh tak mau terpejam. Buliran air diluar sana seolah sedang merekam senyummu yang kemudian akan menari-nari ketika mataku tertutup. Aku…sungguh amat takut untuk melihatmu lagi. Bahkan dalam mimpi sekalipun. Aku hanya tidak ingin hidup di alam mimpi, membayangkan saat kau masih bersamaku.

Udara dingin menyeruak membuatku menggigil. Tapi kau tahu ada yang lebih dingin dari udara malam ini. Hatimu. Aku beri tahu, hatimu itu mungkin sedingin es di kutub utara. Dan dulu, aku selalu bisa menjadikan bongkahan es dalam hatimu itu perlahan meleleh. Sayangnya itu dulu…

Ah, aku tidak bisa lagi melanjutkan tulisan ini, maafkan. Karena segala tentangmu sepertinya tak pantas untuk tertulis disini. Segala tentangmu telah kubiarkan pergi bersama hujan malam ini. Selamat tinggal.



Minggu, 09 Juni 2013

graduation

with my beloved mama and papa <3 td="">

widy-me-tiwi. salah dua dari teman seperjuangan xii ips :))

elsi-me-nisa (yes, we have the same name)

sebelum pulang disempetin foto di depan dulu :B

love love love <3 td="">

*hug*

pilih nomer 3 ya #ups #iklan

my bestfriend ever!

*iklan lagi*
hihi suka deh soalnya kelihatan kurus :p

dari dulu foto bareng tingginya sama ._.

Senin, 27 Mei 2013

masih panjang

jalanmu masih panjang nis, ujian masuk kuliah nggak cuma ada satu, masih ada banyak jalan lain yang belum kamu coba.

percayalah, dengan mencoba banyak jalan, pada akhirnya kamu justru mendapat lebih banyak pelajaran berharga.

lekaslah berdamai dengan hatimu sendiri, lekas bangkit dan kejar yang masih tersisa di depanmu.
harapan itu masih ada, mimpimu itu masih menyala kalau kamu mau berlari lebih kencang lagi.

jangan berandai-andai, sudahi.
perbanyak lagi dzikirnya, perlama lagi sujudnya, persering lagi shaum sunnahnya. jangan bosan merayu-Nya, jangan bosan meminta pada-Nya.

percayalah, percayalah Allah masih mencintaimu, percayalah..
karena inilah cara-Nya untuk mencintaimu, membuat dirimu lebih tangguh lagi. membuat dirimu untuk lebih lebih lagi mencintai-Nya pula...


Sabtu, 04 Mei 2013

bukan sandiwara langit #end


“Anak sholeh, boleh Ibu pinjam robotnya sebentar?” tanya sang Ibunda Guru.

Bagus buru-buru menggelengkan kepalanya, kemudian menyembunyikan robotnya di balik punggung. Kemudian Sang Guru juga berbalik. Kini berhadapan dengan robot yang di genggam erat oleh Bagus.

“Kalau begitu, Om Robot, Ibu Guru boleh pinjam Den Bagus nya sekarang? Habisnya Den Bagus nggak mau ngomong tuh,” Ibu Guru mencoba bercanda.

Berhasil. Bagus tersenyum, sedikit. Kemudian melirik perlahan-lahan ke arah Ibu Guru.

“Den Bagus yang sholeh, robotnya kita ajarin ngaji yuk? Biar robotnya juga jadi robot yang sholeh? Gimana? Den Bagus setuju?” rayu Ibu Guru.

Bagus tidak berkata apa-apa, tapi mengangguk perlahan.Ibu Guru tersenyum. Sang Suami yang melihat dari jauh ikut tersenyum.

“Nah, ayok kita ajarin robotnya Den Bagus. Coba Den Bagus buka iqro’nya ya, biar Ibu Guru bantu,” kata Ibu Guru dengan sabar.

Bagus membuka buku iqro’nya. Hingga terbentanglah barisan huruf-huruf arab di hadapannya. Bagus menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menatap Ibu Guru, memohon bantuan.

“Nah, yang ini namanya alif, Den Bagus. Hurufnya kayak tongkat, panjang. Dibaca ‘a’. kalo yang mirip mangkuk besar dan ada telur satu di bawahnya itu huruf ba’, bacanya’ba’. Nah, kalo yang di sebelahnya, yang sama-sama mirip mangkuk besar, tapi ada dua telur di atasnya, namanya huruf ta’, di baca ‘ta’,” Ibu Guru mencoba menjelaskan dengan penuh perhatian.

Bagus mencoba mencerna. Raut wajahnya menampakkan sebuah kebingungan. Sepertinya apa yang Ibu Guru jelaskan belum ia pahami betul.

“Den Bagus mau coba sama-sama baca sama Ibu?”

Bagus menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. Ibu Guru tersenyum senang.
“Yuk kita baca sama-sama. A-BA-TA.” Ibu Guru membantu mengeja. Tapi Bagus tetap diam, hanya memperhatikan apa yang Ibu Guru baca, tidak menirukannya.

“Loh? Kok Bagus diam saja?” seorang gadis cilik berjilbab kuning mengomentari sebelum Ibu Guru membuka mulut.

“Temen-temen, sini deh. Ayo kita bantuin Bagus mengeja,” gadis jilbab kuning memanggil teman-temannya. Kemudian berkumpul sepuluh anak kecil yang ramai. Mengelilingi Bagus yang masih terlihat bingung.

“Hanya baca saja Bagus, ikuti Ibu Guru,” ujar anak laki-laki bertopi biru.

“Ayo teman-teman, kita baca bareng-bareng saja yuk, biar Bagus juga mau baca. Bagus janji ya, baca bareng-bareng kita?” jilbab kuning mengomando. Bagus hanya mengangguk ragu.

“A, BA, TA,” serentak campuran suara sebelas anak kecil mengudara. Menembus batas-batas langit, hingga mungkin menggetarkan awan-awan yang di lewatinya.

“Eh, tadi Bagus baca juga. Ayo coba Bagus baca sendiri,” giliran topi biru kembali angkat suara.
Bagus malu-malu, kemudian memandangi buku iqro’ di depannya. Ia memejamkan matanya, sebentar, kemudian membuka matanya lagi. Tersenyum.

“A, BA, TA.”
Lantang. Tapi kali ini bukan suara sebelas anak kecil. Kali ini sebuah suara yang di miliki seorang anak berumur tujuh tahun. Yang sejak dua tahun lalu hidup sebatang kara di panti asuhan. Yang sejak dua tahun lalu hanya berteman sebuah robot peninggaalan ayah tercinta. Dan yang sejak dua tahun lalu berhenti berbicara. Kali ini adalah suara pertamanya setelah dua tahun bibirnya terkunci rapat tanpa sebuah kata. Setelah dua tahun peristiwa menyedihkan menimpa ayah ibunya. Dan suara pertama yang ia ucapkan adalah “A, BA, TA”.

Sepasang suami istri yang kini berdiri berdampingan menampakkan wajah haru gembira. Melihat anak-anak kecil yang sedang asyik menghabiskan bekalnya. Saling berbagi, berebut, mengejek, dan ulah kekanakan lainnya.
Hingga tiba ketika matahari akan tenggelam menunggu hitungan menit. Anak-anak kembali bertemu dengan orangtua tercinta mereka. Kelas mengaji sore hari mereka telah habis. Saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Saatnya untuk pulang ke dalam pelukan hangat ayah dan bunda. Sedang kedua guru itu harus merelakan mereka kembali kepada orangtuanya. Waktu yang mereka punya untuk ‘memiliki’ anak-anak itu hanya sembilan puluh menit dalam sehari.

“Ayah, andaikan saja Allah memberi kita kesempatan untuk memiliki cahaya-cahaya seperti mereka,” ucap Sang Istri tiba-tiba sembari menghapus genangan yang ada di pelupuk matanya.

“Sudahlah Bunda, jangan berandai-andai. Allah telah menggariskan yang terbaik untuk kita. Bersabarlah, jalan Allah selalu ada,” Sang Suami mencoba menenangkan, walaupun sebenarnya ia merasakan hal yang sama.
Kemudian dengan tiba-tiba Sang Suami menarik tangan istrinya. Mengajaknya menghampiri seseorang yang berjalan sendirian dengan robot tergenggam di tangannya.

“Bagus, tunggu,” ujar sang Bapak Guru. Bagus menoleh sejenak, menghentikan langkahnya.

“Ayo kita pulang sama-sama,” ucap Sang Guru. Bagus terlihat kaget.

“Bagus mau nggak, kalo Ibu Guru jadi bundanya Bagus?”

Sang Istri terperanjat, kaget. Kemudian menggenggam erat tangan suaminya. Memahami apa yang suaminya maksudkan. Kini tinggal menunggu apa jawaban Bagus.

Bagus terlihat berpikir sejenak. Di antara sayup-sayup adzan maghrib yang terdengar, ia mengangguk dan tersenyum senang. Sepasang suami-istri itu tak terhitung bahagia rasanya. Sang Istri mengucap hamdalah berkali-kali hingga menitikkan air matanya.

“Baiklah. Ayo sekarang kita sholat dulu. Setelah itu kita ke panti untuk mengambil barang-barang Bagus dan berpamitan dengan orang-orang di panti. Yuk,” ajak Sang Ayah.

Sang Ayah menggamit tangan kanan Bagus, sedang tangan kirinya di genggam oleh ibu guru yang kini menjadi bundanya itu.

Dalam langkah beriringan keluarga kecil yang baru saja terbentuk itu saling mengucap syukur dalam hati. Bersyukur atas segala keterbatasan yang mereka miliki. Bersyukur atas hadirnya sosok-sosok yang mampu melengkapi keterbatasan itu. Bersyukur atas kebahagiaan yang pasti ada walaupun kadang tersembunyi. Bersyukur, bersyukur atas segala yang mereka miliki dan tidak mereka miliki.

Matahari kini sempurna tenggelam. Berganti bulan yang malam ini masih separuh. Gemintang mengerlip, formasi-formasinya yang menakjubkan membuat elok paras langit malam. Sang hujan tidak jadi turun malam ini. Mungkin ia memberi waktu kepada mereka yang sedang berbahagia untuk bersyukur mengenang nikmat Tuhannya.