Selasa, 01 Juli 2014

juli


juli. dan saya masih seperti anak baru ketika memandangi layar putih.
juli. 
maafkan.
masih belum bisa menulis sesuatu disini.

Minggu, 11 Mei 2014

School of Writing


BEDAH BUKU DAN PELATIHAN MENULIS BUKU ILMIAH NASIONAL

Pembicara: M. Luthfi Hamidi, S.Ag, SE., MA (penulis buku Qur'anomics)
Panelis : Dr. Raditya Sukmana, SE., MA (dosen dan ketua program pascasarjana Ekonomi Islam Universitas Airlangga)

Tema:
Qur'anomics. The Crisis: Krisis Mana Lagi yang Engkau Dustakan?
Mengkaji ekonomi dalam perspektif Al-Qur'an.

Waktu dan Tempat:
RABU, 21 MEI 2014
PUKUL 08.00 - 15.00
DI AULA PASCASARJANA FEB UNIVERSITAS AIRLANGGA

HTM:
Pelajar/ mahasiswa: 25k
Umum : 35k

Fasilitas:
1. Seminar Kit
2. Snack
3. Lunch
4. Sertifikat
5. Doorprize
6. Diskon 15% pembelian buku Qur'anomics

Pendaftaran:
SHOW_nama lengkap_nama institusi_no HP kirim ke 08567948589 (ishmah)

Pembayaran:
Langsung --> Corner FEB Unair
Transfer

More Info:
1. Ishmah (08567948589 )
2. Viana (085732917191)



organized by: Divisi Keilmuan HIMA EKIS FEB UA


Rabu, 30 April 2014

taukah kau tuan, bagaimana peribahasa "bagai pungguk merindukan bulan" itu kini menamparku?
seolah menyadarkanku dari sebuah lamunan panjang.
membangunkanku dari cerita mimpi yang terlalu indah.

senyatanya, aku memang sedikit bermimpi memiliki kisah seindah negeri dongeng itu akan terjadi padaku. 
dimana seorang upik abu pada akhirnya bersanding dengan pangeran rupawan. 
ah, aku tau itu hanya sebuah fiksi yang dibuat manusia. betapapun indah alur ceritanya. 

tapi kau tahu, aku selalu percaya dengan skenario-Nya. 
aku tidak akan memungkiri apapun yang telah Ia takdirkan untukku.
karena semua tahu, akhir dari-Nya selalu lebih indah dari cerita negeri dongeng manapun.

dan untuk saat ini, biarkan aku kembali dalam lamunanku sejenak,
sebentar saja,
membayangkan bahwa di dalam skenario Tuhan yang indah itu namamu tertulis disana...
dan biarlah aku tetap menjadi pungguk yang merindukan bulan, 
menjadi pungguk yang merindukanmu, tuan...

Selasa, 15 April 2014

'ketidaksengajaan'

aku percaya bahwa tak ada sebuah kebetulan. aku meyakini bahwa segala yang terjadi memang sudah menjadi kehendak Langit. namun, tentang pertemuan pertama kita, aku merasa bahwa itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.

di pagi yang entah, di tempat yang antah, Langit menuntun langkah kaki kita berpijak pada tanah yang sama. tak jauh, hanya seperlemparan batu dariku, kau berdiri. dan aku hanya menatapmu tanpa arti ketikakau bertanya basa-basi.

mungkin semesta sedikit kecewa dengan pertemuan pertama kita. hingga pada terbitnya matahari setelah pertemuan itu, pada pagi kesekian setelah pertemuan pertama itu, Langit kembali menuntun kita untuk menapaki jalan yang sama. lagi-lagi aku hanya merasa itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.

dan aku tidak pernah menyesal dengan pertemuan kita yang tanpa sengaja.

menghafal suara langkah kakimu sangatlah mudah bagiku. aku pun bisa menebak pakaian apa yang kau kenakan pagi ini. dan bukan suatu yang sulit bagiku untuk mengetahui makanan apa yang kau suka, buku apa yang kau baca, dan lagu apa yang sering kau dengar.

dan itu juga sebuah ketidaksengajaan.
satu ketidaksengajaan yang aku sesali, bahwa aku menyimpan setiap detail memori tentangmu...

Kamis, 13 Februari 2014

pertengahan februari

pertengahan februari. ada apa saja?

hari ini pembagian KHS pertama. it means udah tau IP semester 1 ini. nggak pengen bilang berapa, tapi alhamdulillah di syukuri. dari yang cuma targetnya "lulus dan nggak ada yang ngulang" ternyata Allah ngasih lebih. alhamdulillaah :)

hari ini hari keempat pelatihan untuk temilreg. well, dikasih kesempatan seperti ini nggak boleh disiakan dong ya. saya sedang mengumpulkan semangat yang kaya waktu sbmptn dulu. yang belajar itu jadi hobi. ya walopun itu cuma bertahan sebentar, hehe (tau kan saya aslinya ga suka belajar :D)

kediri. akan menjadi kota ke-5 (setelah bogor, bandung, depok, mojokerto) yang saya kunjungi selama di semester 1 ini. saya selalu bersyukur diberi kesempatan untuk ikut di agenda maupun lomba-lomba di luar kota. tidak, saya tidak mencari title juara nya. itu hanya bonus saja nantinya. ketika hendak berangkat menuju tempat baru, ataupun menghadiri agenda besar, yang saya niatkan adalah belajar. mempelajari kehidupan tepatnya. mendapatkan hikmah dari setiap detik perjalanan yang saya lewati. mencari kearifan dari setiap daerah yang saya pijak

semoga setelah kota ke-5 ini, di semester2 mendatang bisa mengunjungi hingga negara ke-5. aamiin :)

Rabu, 29 Januari 2014

hati anak peremupuan mana yang tidak akan hancur ketika ada yang memberitahu berapa lama lagi ayahnya akan bertahan?
hati anak perempuan mana yang tidak akan hancur?

Selasa, 21 Januari 2014

antara hidup dan mati

selasa yang lalu kabut membayangi setiap perjalanan kami. dari solo hingga jogja, gerimis tak kunjung reda. sampai di pantai pun gerimis masih setia menemani kami. dan tentulah kami menjadi pengunjung pertama dan satu-satunya di pagi hari itu.

"eh, lihat tuh ada nelayan yang mau melaut"
"yang bener aja, ombaknya gede banget loh, gerimis lagi"

di pantai depok itu memang tempat nelayan melaut, tempat penjualan ikan segar. enaknya kalau datang pagi memang bisa melihat kegiatan nelayan datang dan pulang dari melaut.

"itu perjuangan antara hidup dan mati lho mbak" tiba-tiba mama menimpali obrolan saya dan teman-teman.

melihat ombak yang besar, ditemani gerimis yang cukup deras, saya jadi berpikir banyak. dua awak nelayan di depan saya menaiki kapalnya. saya melihat dari mulai kapal di bibir pantai, mesin dinyalakan, hingga kapal itu bergerak mengikuti gulungan ombak. sepertinya saya bakal langsung mabuk laut kalau ikut naik di kapal itu. 

antara hidup dan mati. bener juga kata mama. kita ngga pernah tahu apa yang akan terjadi di laut itu bahkan satu detik kemudian. kita nggak pernah tahu dibalik tenangnya ombak apakah ada badai di depannya. kita nggak pernah tahu apakah ketika di tengah laut nanti ada ancaman hiu atau paus. kita nggak pernah tahu apakah ketika ditengah laut nanti tiba-tiba hujan deras dan kapal penuh terisi air. kita nggak pernah tahu apakah setelah kita meninggalkan daratan, kita bisa kembali lagi..

kita sering menikmati lezatnya ikan laut yang kita makan. tanpa pernah tahu untuk mendapatkan satu ekor ikan di laut itu butuh perjuangan hidup dan mati. dan hasilnya pun hanya sedikit, tidak sebanding dengan nyawa yang menjadi taruhannya.

adegan syahdu yang saya lihat juga dikala itu, ketika istri dan anak dari nelayan itu mengantarkan kepergian ayahnya sambil membawakan bekal. disini saya melihat sosok perempuan yang kuat, yang berani. ia juga tidak pernah tahu apakah suami, ayah dari anaknya itu, bisa kembali dan berkumpul dengannya lagi. ia tidak pernah tahu apakah raga suaminya itu akan bisa kembali memeluknya lagi. ia tidak pernah tahu, tapi ia ikhlas. ia pasrah apapun akan ketentuan Tuhan. yang ia yakini, suaminya menempuh jalan yang benar untuk mencari rizki, maka ia hanya bisa berdoa semoga Tuhan selalu menjaganya dari bahaya. 

kalau itu saya...mungkin saya tidak akan sanggup. saya tidak cukup kuat untuk kehilangan orang yang saya cintai. saya tidak cukup berani untuk kemudian melanjutkan hidup sendiri. 

saya...yang kata orang-orang itu seorang yang tangguh, seorang yang cukup kuat, ternyata lemah bila dihadapkan dengan satu hal: kehilangan. 

saya...yang kata orang-orang itu seorang yang berani, ternyata takut dan menjadi pengecut bila dihadapkan dengan satu hal: kehilangan.

padahal kehilangan itu satu hal yang pasti. padahal kehilangan itu suatu yang akan terjadi pada setiap orang. hanya saja waktunya kita tidak pernah tahu. 

ketika mungkin suatu saat di masa depan nanti sya kehilangan orang yang saya cintai, saya tahu hati saya akan hancur. saya tahu saya akan menangis diam-diam ketika malam hingga shubuh menjelang. saya tahu saya tidak akan menghapuskan memori tentangnya. saya tahu saya akan memandang fotonya lama di setiap pagi yang datang. saya tahu, hari-hari setelah saya kehilangannya, hari-hari saya yang tersisa, akan terpakai untuk mengingatnya, mendoakannya. tapi saya juga tahu saya akan bangkit dari kesedihan akan kehilangannya. saya akan bangkit meski saya tahu hidup tanpanya itu tak mudah.

tapi...ketika yang hilang itu iman di dalam hati...saya sungguh tidak akan pernah sanggup. saya tidak akan pernah tahu bagaimana hidup tanpa iman. mungkin, tanpa iman, tidak akan ada lagi kehidupan.
tanpa iman, tidak ada lagi kehidupan yang teratur, seimbang.
tanpa iman, tidak ada lagi kehidupan yang aman, damai.
tanpa iman, tidak ada lagi kehidupan menghidupi.
tanpa iman, kehidupan itu hanya bualan...

maka sekali lagi antara hidup dan mati, akankah iman kita menemani hingga akhir hayat? akankah kita menjaga iman kita hingga akhir hayat?